God Bless You All and Me

23 March 2012

Wujudkan Sekolah Gratis, Bukan Pendidikan Gratis

Penggunaan istilah pendidikan gratis tidak tepat digunakan dalam konteks pendidikan yang sebenarnya. Karena pendidikan mengandung makna yang luas dan terjadi di berbagai ruang dan waktu, sehingga tidak mungkin semua pendidikan tersebut tidak membutuhkan biaya, atau digratiskan. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi Papua, James Modouw, dalam jumpa pers yang digelar saat Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2012 di Bojongsari, Depok, pada Selasa siang, (28/02).

James mengatakan, filosofi pendidikan terjadi dalam tiga ruang. Pertama adalah pendidikan formal, di mana pendidikan diterima di sekolah. Kedua adalah pendidikan nonformal, melalui lembaga-lembaga pelatihan yang memberikan sertifikasi kepada pesertanya. Ketiga adalah pendidikan informal, di mana yang berperan adalah keluarga, masyarakat, lembaga adat, pemerintahan, dan media. Atas dasar filosofi tersebut lah maka pendidikan gratis bukan kebijakan dan istilah yang tepat untuk digunakan.

"Kalau kita ingin pendidikan gratis, berarti biaya pendidikan informal dalam keluarga, juga harus dibebankan kepada pemerintah," ujar James, mengingat luasnya ruang lingkup pendidikan dan banyaknya pihak yang terlibat dalam pendidikan.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh juga pernah mengatakan hal serupa dalam beberapa kesempatan, yaitu bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya. "Urusan pendidikan ini sangat banyak. Tidak mungkin semuanya bisa diselesaikan oleh kementerian saja, butuh bantuan pihak lain," ujarnya. Karena itu, tutur James Modouw, istilah yang tepat adalah sekolah gratis, bukan pendidikan gratis.

Untuk mencapai sekolah gratis bagi masyarakat Indonesia, Kemdikbud memberlakukan wajib belajar sembilan tahun, di mana dalam pendidikan dasar (SD dan SMP), peserta didik tidak dibebankan biaya pendidikan. Kemdikbud juga memberikan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang meliputi biaya investasi dan biaya operasional sekolah. Sementara komponen biaya lainnya, yaitu biaya personal, tetap diusahakan sendiri oleh peserta didik atau orang tuanya. "Namun untuk BOS 2012 ini, sudah merambah ke biaya personal sedikit-sedikit," kata Plt. Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud, Suyanto, saat menambahkan penjelasan James tentang sekolah gratis di kesempatan yang sama.

Biaya personal adalah biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pribadi peserta didik, misalnya pembelian seragam, pembelian alat tulis, atau biaya transportasi sehari-hari. Bagi peserta didik dari keluarga yang tidak mampu secara ekonomi, bisa menggunakan biaya personal dari sebagian dana BOS. Namun jika masih kurang, Kemdikbud juga memiliki program Bantuan untuk Siswa Miskin (BSM) yang bertujuan untuk mengcover biaya personal.

Selain itu, setelah program wajib belajar sembilan tahun dijalankan, pada 2012 ini Kemdikbud memulai rintisan pendidikan menengah universal, di mana biaya investasi dan operasional sekolah dari SD, SMP, hingga SMA/SMK (12 tahun) ditanggung pemerpemerintah. Diharapkan, program-program tersebut bisa mewujudkan sekolah gratis di Indonesia.

seLENgkapnya......

DPU Deiyai Targetkan Jalan Keliling Danau Tigi Selesai Tahun 2012

Dinas Pekerjaan Umum [DPU] Kabupaten Deiyai, menargetkan jalan keliling Danau Tigi akan di selesaikan dalam tahun 2012. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Deiyai, Willem Dogopia, SE., MM, yang baru dilantik pada tanggal 24 Januari 2012, oleh Bupati Deiyai Hengky Kayame, SH., MH di Aula Gereja Katholik Wakeitei II.

“Jalan keliling Danau Tigi kita harus selesaikan dalam tahun ini [2012], dan bila perlu semua pekerjaan kita sudah selesai pada akhir bulan November setiap tahun. Lanjut Dogopia, khusus bagi para pelaksana lapangan [kontraktor] yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai target, kami akan menggantikan dengan perusahan lain yang mampu bekerja ”.

Demikian kata, Kepala DPU saat memberikan arahan dan pembagian tugas kepada Staf Pegawai baru yang ditempatkan di DPU melalui pengangkatan formasi 2009 Kabupaten Deiyai pada hari senin [13/02] di kantor DPU Jl. Raya Enaro-Wakeitei, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai.

Untuk mewujudkan cita-cita kepala dinas yang juga sebagai harapan masyarakat disekitar Danau Tigi. Dalam rangkah menjaga kualitas kerja dilapangan, kepala dinas PU mengutus sejumlah pejabat dan staf pegawai di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum [DPU] Kabupaten Deiyai. Untuk melakukan survai dan pengawasan lapangan di wilayah Tigi Barat, Jalan Ayatei-Oneibo dan sejumlah jembatan yang tengah dikerjakan seperti kali Itoka dan Kali Aya.

Kunjungan tersebut langsung dipimpin oleh Sekertaris DPU, Naftali Tobai, S. Ks dan didampingi oleh sejumlah pejabat adan staf seperti Yulius Talibaba, S. Sos [Kasi Perencanaan Teknis], Yohanis Sikteubun [Kasubak Umum], Lukeisius Iyai [Kasi Pengairan], Demianus Auwe, Amd. Tek [Kasi Tata Ruang], Yuvensius Bunai, Amd. Tek [Kasi Tata Kota] Yunus Youw, ST [Staf pada bidang Pertambngan dan Energi] dan Yunus Yeimo, ST [Staf pada Bidang Bina Marga dan Cipta Karya]

Dalam perjalanan kunjungan kerja di lapangan yang difokuskan pada jalan arah Ayatei-Oneibo, saat ini telah sampai di Onago, dan diperkirakan masih kurang sekitar 4 kilo lagi yang belum dikerjakan untuk bertemu dengan jalan yang sedang dikerjakan dari arah Bomou.

Sementara, ruas jalan lain yang akan dikerjakan pada tahun ini di Kabupaten Deiyai dari Yaba ke Kokobaya, saat ini telah sampai di Kali Yawei. Dan untuk jalur menuju Arah Debei, tahun ini juga akan dikerjakan paling sedikit 3 kilo meter. [Yeimo]

seLENgkapnya......

SMK Karel Gobai Enarotali memperoleh akreditasi “C”

Berdasarkan hassil penilaian yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/ Madrasah Provinsi Papua, yang dirilis di website resminya [ttp://www.ban-sm.or.id/provinsi/papua/akreditasi/view/241125], yang ditetapkan pada tanggal 31 Oktober 2011. SMK Karel Gobai-Enarotali memperoleh Akreditasi “C”, dengan nilai Akretadisi 56, 50

Secara rinci semua komponen penilain yang dieroleh SMK Karel Gobai Enarotali, diantaranya adalah Standar Isi 50, 65. Standar Proses 55, 80. Standar Kompetensi Lulusan 52, 10. Standar Tenaga Pendidik dan Kependidikan 58, 00. Standar Sarana dan Prasarana 56, 80. Standar Pengelolaan 57, 20. Standar Pembiyaan 45, 50. Dan Standar Penilaian Pendidikan 70, 40.

Kepala Sekolah SMK Karel Gobai, Yulius Yeimo, S. Pd, menyampaikan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas penghargaan diberikan kepada sekolah yang dipimpinya, walau hasilnya memperoleh urutan tiga [C].

“Kami bersyukur, walaupun hasil akreditasinya C, karena sekolah kami menjalan proses belajar mengajar dengan apa adanya. Walaupun kami sekolah kejuruan”. Demikian ungkapan kepala SMK Karel Gobai, yang baru menjabat satu tahun.

Sementara itu, Wakasek Kurikulum, Agustinus Doo, S. Pd, meminta kepada semua pihak yang terlibat di sekolah seperti orangtua, guru dan siswa untuk bekerja sama dalam memajukan mutu pendidikan di sekolah ini. “Hasil ini suatu kebahagiaan bagi kami, sehingga saya minta kita harus kerja sama, baik orangtua, guru dan semua siswa”.
Sekolah yang didirikan oleh Yayasan Pengembangan Sosial “Aweida” Papua [YPPAS-Papua], sejak tahun 2003 ini mengalami pergantian pimpinan sekolah sejak tahun 2010. Sebelumnya, sekolah ini dipimpin oleh Bapak Herman Kayame, S. PAK, dan berdarkan SK Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Paniai, memberikan kepercayaannya kepada Yulis Yeimo, S. Pd.

Ketua Yayasan sekaligus sebagai pendidiri sekolah ini, Bapak Sam Gobai, SE juga menyampaikan hal sedanah, bahwa sekolah ini telah berumur 10 tahun dan hasil ini adalah semua keras semua pihak, baik pendiri, guru, orangtua siswa serta masyarakat disekitarnya. “kita beryukur, karena ini hasil perjuangan kita semua, dan ini hasil yang luar biasa”. Imbuhnya.

Sementara itu, siswa Elihut Yeimo yang juga mantan ketua OSIS, yang kini duduk di kelas dua belas menyampaikan terima kasih atas hasil ini, dan berharap sekolah ini kedepan lebih baik lagi. “Saya mewakili teman-teman siswa rasa senang, sekolah kita bisa dikreditasi dan hasilnya memuaskan, dan saya berharap sekolah ini lima atau sepuluh tahun lebih baik dari sekarang”.

seLENgkapnya......

STIE Karel Gobai Papua Gelar Seminar Proposal

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi [STIE] Karel Gobai Papua, Enarotali, menggelar seminar proposal sebagai salah satu kegiatan akademik yang wajib di ikuti oleh setiap mahasiswa yang berada pada semester akhir dan yang memenuh syarat administrasi dan syarat akademis. Seminar proposal bagi mahasiswa angkatan ke IV ini dilaksanakan di ruang kuliah kampus STIE Karel Gobai Papua, Enarotali. Jalan Dimi-Mana Topiida, Nunudagi Paniai, Papua, pada hari jumat [24/02].

Kegiatan seminar proposal ini, dimulai dari jam 11:00 dan diakhiri pada jam 19:00. Total mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini berjumlah sepuluh mahasiswa yang terdiri dari lima orang mahasiswa dan lima orang mahasiswi. Dari data bagian akademik, jumlah mahasiswa yang seharusnya mengikuti seminar proposal adalah delapan belas mahasiswa yang terdaftar aktif pada semester akhir, tetapi hanya sepuluh mahasiswa yang mengikuti seminar propsal.

Ketua Panitia Pelaksana Seminar Proposal dan Skripsi bagi angkatan ke IV tahun akademik 2011/2012, Agustinus Pigai, S. Sos, mengatakan delapan mahasiswa lainnya yang belum mengikuti kegiatan seminar proposal tersebut belum memberikan informasi kepada panitia. Namun, berharap dapat mengikuti kegiatan seminar proposal pada tahap kedua yang rencannya akan dilaksanakan pada bulan Mei 2012.

“Sebetulnya, delapan belas mahasiswa tetapi, yang ikut hanya sepuluh. Kami sudah memberikan pemberitahuan dan jadwal tahapan proposal dan skripsi. Namun sampai saat ini, belum memberikan informasi kepada kami panitia. Tetapi, sebagai panitia berharap mereka dapat mengikuti seminar proposal pada gelombang kedua nanti”. Ujarnya, seusai kegiatan seminar proposal ini berlangsung.

Lanjut Pigai, saya berharap kepada mahasiswa yang mengiktui seminar proposal ini, dapat melaksanakan petunjuk yang di berikan oleh dosen penguji untuk perbaikan dalam waktu yang ditentukan oleh panitia”. Sementara, itu salah satu peserta yang juga sebagai ketua tingkat Yan Tatogo, berharap agar semua tahapan dan jadwal yang ditetapkan oleh panitia ini dapat berjalan dengan baik. “saya berharap, lebih cepat lebih baik, dan sesuai jadwal yang dibut oleh panitia, karena kami sudah tunda satu tahun”, imbuhnya.

Dalam kegiatan seminar proposal ini dipimpin oleh Yeheskiel Doo, S. Th sebagai moderator. Dan sebagai penguji satu Peli E. K. Yogi, SE, penguji dua Ivo. E. Gobai, SE dan penguji tiga Agustiunus Doo, S. Pd. Dalam arahan dan ujiannya ketiga penguji mempertanyakan sejumlah hal-hal yang harus diikuti dalam tahapan penyusunan proposal ilmiah.

Ketiga, penguji lebih menenkan dan mempertanyakan menganai penentuan variabel tetap, dan bebas, metode yang akan dipakai dalam pemgambilan data dan penentukan populasi dan sampel dalam penelitian akan dilakukan selama dua bulan kedepan untuk menyusun tugas akhir [skripsi].

Sementara itu, seusai pelaksanaan seminar proposal Pembantu Ketua Bidang Akademik Peli E. K. Yogi, SE di ruang kerjanya, mengatakan pelaksanaan seminar proposal adalah salah satu kegiatan akademik yang tidak boleh dilewatkan oleh setiap mahasiswa. “Kegiatan ini merupakan kegiatan akademik secara rutin dan wajib diikuti oleh setiap mahasiswa di semester akhir”.

Yogi, sebagai pimpinan akademik di STIE Karel Gobai Papua, berharap para mahasiswa yang telah mengikuti maupun belum mengikuti, agar benar-benar mengkaji secara mendalam atas semua masalah penelitian yang diangkat. Karena, melalui penelitian atau kajian itu masalah bisa menjadi kecil atau bahkan malah masalah bisa menjadi lebih besar.

“Sebagai pimpinan lembaga yang membidangi bagian akademik berharap agar para mahasiswa betul-betul dapat mengkaji masalah yang diangkatnya dengan metode yang baik dan benar. Karena dengan penelitian ini masalah bisa menjadi besar atau bisa menjadi kecil. Lanjutnya, kami juga berharap penelitian dan kajian atas masalah-masalah ini jangan hanya untuk sekedar kejar nilai dan titel, tetapi ini harus menjadi sesuatu pekerjaan yang wajib di setiap lingkungan kerja masing-masing”. [Yeimo]

seLENgkapnya......

Guru Sukarela Di Paniai; Mengabdi Tanpa Gaji

Maju mundurnya sebua bangsa ada di tangan maju tidaknya pendidikan kita. Saya menulis artikel ini atas pengalaman pribadi penulis sebagai salah satu “guru sukarela” yang telah mengabdikan diri untuk mengajar dan membagi ilmu serta membagi pengalaman yang pernah diperoleh di tanah Jawa pada beberapa tahun lalu. Judul tulisan ini kelihatannya agak “lucu” namun begitulah kenyataan nasib guru-guru sukarela di Papua, khususnya Kabupaten Paniai. Bila ktia bertanya Siapa guru honor itu?

Bagaimana nasib pribadi dan keluarganya? Apa harapan dan cita-cita serta masa depan sebagai seorang “pahlawan” negara? Jawabannya berpulang pada kita semua yang berkewajiban, teruma Pemerintah Provinsi Papua, Kabupaten dan Pimpinan sekolah yang bersangkutan, untuk mengelola dan melihat persoalan ini.

Setiap pagi penulis melihat, merasakan dan mendengar keluhan teman-teman saya yang senasib dengan saya. Kami telah diberi gelar oleh negara, yaitu “pahlawan tanpa gaji”. Sebuah gelar yang hanya ada di Papua, [Indonesia-red]. Lebih jauh lagi adalah gelar [pahlawan] itu diberikan oleh negara, tapi dilupakan oleh negara itu sendiri. Negara yang di maksud disini adalah Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi atau Kabupaten.

Dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru, dan Dosen pada pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “Guru” adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Lalu apa bedahnya dengan “guru sukarela” [guru tidak tetap]. Karena dalam Undang-undang ini belum singgung mengenai “guru sukarela”. Jika demikian apa bedanya guru yang selalu dibayar oleh negara [guru tetap] pada setiap bulannya dengan guru tidak tetap ini?

Kenyataan bahwa Pendidikan Kabuapten Paniai, tenaga pendidiknya 50% guru tidak tetap [guru honor]. Sementara dalam Undang-undang yang telah diatur oleh negara Indonesia belum [tidak] disinggung mengenai guru tidak tetap. Yang menjadi pertanyaan bagi penulis adalah mengapa guru tidak tetap [pahlawan tanpa gaji] lebih disiplin dan rajin menjalankan kewajiban yang telah diatur dalam UU No 14 Tahun 2005, pasal 14 tentang hak dan kewajiban guru. Sementara, guru yang dibayar oleh negara seringkali mengabaikan tugas dan kewajibannya sebagai abdi bangsa dan negara, mengapa begini dan begitu? Entalah.

Guru honor [guru tidak tetap] memang engkau pahlawan di belantara Papua. Mengapa penulis memberi gelar “Pahlawan Tanpa Gaji” jawabannya silakan tanyakan kepada guru sukarela yang Anda temui, apapun tingkat pendidikan mulai dari Pendidikan Usia Dini sampai Pendidikan Dasar dan Menengah.

Satu hal yang sering penulis dengar sebagai salah satu ungkapan dari berbagai guru sukarela yang ada di Kabupaten Paniai misalnya, “ya kita punya anak-anak dan adik-adik, jadi kita mengajar, biar mereka juga menajdi manusia”. Sungguh sebuah ungkapan yang sangat mendalam yang datang dari lubuk hati yang paling dalam. Sebuah ungkapan yang menantikan perubahan nasib hidup kedepan, harapan akan adanya perubahan hidup.

Guru sukarela, adalah pahlawan negara yang dilupan, oleh negaranya sendiri. Sementara, maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh pendidikan. Kualitas pendidikan akan terlihat, apabila pelaku-pelaku pendidikan itu, sejahtera.

Sebuah pertanyaan yang layak diajukan disini adalah “Apa perbedaan antara Guru sukarela dengan Pegawai Honorer di Dinas lain atau mereka yang bekerja sebagai pengawai harian pada kantor-kantor pemerintah? Apakah mereka [guru sukarela] ini tidak punya payung [dinas] yang mampu melindungi? Jika kita membandingkan tugas yang tanggungjawab yang diemban oleh pegawai Harian dan Guru sukarela jauh beda, sangat jauh beda. Mangapa? Karena pegawai harian di Dinas hanya datang sapu ruangan atau ahalaman dan kantor, sedangkan guru sukarela menghabiskan semua yang dia punyai, seperti waktu, tenaga, pikiran, dan uang yang dia dapat [bukan dari sekolah yang dia abdi] korban hanya untuk masa depan anak-anak dan adik-adik sebagai generasi muda, pengganti orangtua, keluarga, kampong, daerah, suku dan gereja.

Guru sukarela yang telah, sedang dan akan mengabdi pada bangsa dan negara demi kemajuan bangsa ini, adalah bukan tamatan SPG, SPGO dan sebagainya. Tetapi mereka yang telah menyandang gelar sarjana di peguruan tinggi. Sekali lagi, sarjana yang punya titel perguruan tinggi. Mereka pulang kampung, membagi ilmu tanpa gaji. Aneh tapi, nyata.

Sejumlah alasan yang sering dilontarkan oleh para guru sukarela tersebut adalah 1], untuk menjaga status sosial sebagai seorang intelektual, 2], menjaga dan menumbuhkembangkan ilmu yang pernah belajar di perguruan tinggi, biar tidak lupa, 3], untuk mengisi waktu, agar waktu yang berjalan diisi dengan aktifitas yang bermanfaat, 4], untuk mencari pengalaman sebagai bahan pengembangan diri kedepan. 5], dan seterusnya dan sebagainya.
Guru sukarela, kita tidak di gaji di dunia, walau kita sudah punya titel pahlawan.

Tapi, Allah akan membayar upah kita di surga sesuai dengan perbuatan kita. Tetap semangat. Jangan menyerah. Karena jasamu akan dicatat dalam catatan sejarah anak didikmu. Jayalah guru sukarela, Jayalah pendidikan di Paniai-Papua.
*) Penulis adalah salah satu “Pahlawan Negara Tanpa Gaji” yang mengajar di beberapa sekolah di Paniai-PAPUA.

seLENgkapnya......

39 Siswa SMK Yamewa Paniai Ikuti Prakerin

Sedikitnya Tiga Puluh Sembilan siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kelompok Pertanian “Yamewa Paniai”, angkatan ke-III, yang terbagi kedalam tiga jurusan yaitu Jurusan Pertanian sebanyak 11 orang siswa, Jurusan Peternakan sebanyak 18 orang Siswa, dan Jurusan Perikanan sebanyak 10 orang siswa. Siswa siswi ini akan melakukan Pratek Kerja Industri selama satu bulan lebih yaitu terhitung mulai hari ini tanggal 28 Oktober sampai dengan 31 November 2011.

Satu hari sebelumnya pihak panitia memberikan pembekalan kepada siswa dengan materi tentang penyiapan alat dan bahan yang perlu di persipakan selama praktek berlangsung, demikian kata Ketua Panitia Prakerin Martius Degei, S. Pi yang di dampingi Sekertaris Panitia Obet Obaito Nawipa, S. Pt di Lapangan Bola Voli Enarotali, sebelum menghantar siswa-siswi ke tempat praktek, secara bersama sambil diarak-arak di kota Enarotali sebelum menghantar ketempat praktek.

Panitia mengharapkan agar para siswa dapat melakukan praktek dengan sungguh-sungguh, karena waktunya sangat sedikit bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “saya sebagai panitia meminta kepada semua siswa supaya bisa melakukan praktek dengan baik, karena ini waktunya singkat, Cuma satu bulan”. lanjut Degei, tujuan prakerin ini adalah agar siswa bisa membuka usaha sendiri setelah menyelesaikan studi di SMK Pertanian Yamewa. Selain itu, selain siswa juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak khususnya para guru pembimbing dan petugas pembimbing lapanganan dimana siswa melakukan praktek”.

Sebagai sekolah menengah kejuruan, setiap siswa diwajibkan untuk mengikuti Praktek Kerja Industri (PRAKERIN). Siswa-siswi yang telah menuntut ilmu berupa teori di kelas harus dan mampu melakukan praktek di Dunia Industri sesuai dengan Jurusannya masing-masing. Siswa SMK Pertanian Yamewa Paniai, kali ini melakukan praktek kerja lapangan di tiga tempat yang terpisah sesuai dengan jurusan masing-masing.

Ketigapuluhsembilan siswa ini ditempatkan di tiga tempat yakni Jurusan Pertanian dengan jumlah siswadi salah satu lahan kebun di Kampung Kogekotu. Jurusan, perikanan ditempatkan di Balai Pembeniahan Ikan, Sub-Dinas Perikanan,Kabupaten Paniai di Aikai. Sementara itu, 18 siswa Peternakan akan melakukan pratek di kandang peeternakan ayam milik sekolah di Topito [Yeimo].

seLENgkapnya......

99,9% Siswa di Paniai, Belum Mengenal Komputer

Saya menulis artikel ini atas dasar pengalaman pribadi sebagai guru Teknologi Informasi dan Komunikasi [TIK] pada beberapa sekolah di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai. Saya melihat pada sekolah yang penulis mengajar ini menunjukkan bahwa “99,9% siswa tidak pernah memegang [tidak tahu] menggoperasikan komputer”.

Mengapa 99,9% generasi masa depan Paniai ini akan kehilangan kepercayaan diri dalam dunia Teknologi dan Informasi? Siapa yang salah? Beberapa pihak yang harus bertanggungjawab dalam mengatasi persolan ini adalah orangtua siswa, pemerintah daerah, dan yayasan serta masyarakat luas.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni, pertama, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya [manfaat] belajar komputer. Kedua, minimnya fasilitas umum seperti ketersediaan jaringan listrik oleh PLN melalui pemerintah daerah Kabupaten Paniai. Ketiga, Kurannya fasilitas Laboratorium Komputer yang disediakan oleh pihak pendidiri sekolah [Yayasan] atau Pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Paniai. Keempat, kurangnya fasilitas buku pelajaran TIK atau buku komputer secara umum, yang disediakan disekolah-sekolah maupun diluar sekolah [toko buku].

Solusinya untuk mengatasi masalah ini adalah semua pihak yang telah disebutkan diatas ini harus berpikir dan bekerja sama. Mengapa? Karena menyelamatkan satu generasi dibidang komputer adalah suatu tugas yang mulia. Selain itu, saat ini bagi setiap orang yang tidak tahu, atau belum mengenal komputer tidak akan pakai, di lapangan pekerjaan baik pemerintah atau pun swasta. Singkatnya adalah biar ktia punya anak itu ganteng dan cantik, tapi tidak akan diterima sebagai pengawai swasta atau pemerintah. Kalau tidak tahu komputer. *). Penulis adalah Staf pengajar PelajaranTIK, pada SMK Karel Gobai dan SMK Yamewa, Kabupaten Paniai-Papua

seLENgkapnya......

Moral KPU Kab. Paniai

Dalam rangka memagari Kabupaten Deiyai, dengan Peraturan Daerah [PERDA]. Sekretariat Daerah, yang membidangi Hukum, Organisasi dan tata laksana [Hukum dan Ortal] menggelar Kegiatan Publikasi Peraturan Perundangan-undangan dan Rencana Kerja Rancangan Peraturan Daerah, di Aula Antiokia Kingmi, Wakeitei [24/02]. Peraturan Bupati Deiyai Nomor 4, 5, 6 tentang Standar Kompetensi Jabatan Struktural dan Uraian Tugas setiap SKPD di lingkungan Kabupaten Deiyai.

Publikasi Peratuan Daerah [perda] ini diberi tema “Terwujudnya Program Legislasi Daerah yang Disusun secara Terencana, Terpadu dan Sistematis. Sedangkan subtema adalah “Melalui Penataan Program Peraturan Perundang-undagan Perlu Terciptanya Sumber Daya Manusia yang Berkualitas untuk Membangun Perencanaan dan Penyusunan Peraturan Kabupaten Deiyai yang lebih Andal”.

Kegiatan Publikasi ini dibuka oleh Bupati Kabupaten Deiyai Hengky Kayame, SH., MH yang diwakili oleh SEKDA Blasius Badii, BA. Dalam sambutan pembukaan kegiatan publikasi perda yang dibacakan oleh SEKDA, bupati menekankan pentingnya pemahaman tugas dan fungsi kerja dari setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah [SKPD], yang telah menjadi peraturan bupati deiyai [perda].

“Saya minta setiap SKPD harus memahami dan membagi tugas sesuai dengan uraian tugas yang kini telah menjadi peraturan bupati. Jangan setiap tugas dikerjakan oleh pimpinan, bawahan tinggal sante. Dan bila perlu uraian tugas akan dibagikan ini, diperbanyak oleh masing-masing SKPD”.

Peserta yang diundang dalam kegiatan ini, masing-masing SKPD di lingkungan Kabupaten Deiyai sebanyak 3 orang peserta dan target panitai sebanyak 50 orang. Namun, yang hadir pada saat kegiatan tersebut hanya sejumlah SKPD dengan total peserta berjumlah 30 orang. Maka, Kepala Bagian Hukum & Ortal mengatakan tidak akan memberika buku perda kepada insatansi yang tidak datang.

“Ya, bagi instansi atau SKPD yang tidak datang kami tidak akan memberikan buku perda, mereka mau cari dimana silakan. Mereka tidak hargai kami punya undangan. Kamipun tidak akan hargai mereka kalau mereka datang minta buku perda” uajrnya.

Setelah kegiatan selesai, acara ditutup langsung oleh Kepala Bagian Hukum dan Ortal Setda Kabupaten Deiyai,. Dalam sambutan penutupan kegiatan Kabag Hukum dan Ortal Melkianus Adii, SH berharap, semua SKPD dapat bekerja sesuai dengan tugas dan fungsi kerja yang telah dimuat dalam perda. Dan bila ada SKPD yang ingin membuat suatu perda slakan koordinasi dengan bagian Hukum.

“Saya minta mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh, sesuai dengan tugas dan tanggungjawab kita masing-masing. Dan apabila ada SKPD yang ingin membuat Perda silakan datang koordinasi dengan kami. Imbuhnya. [Yeimo]

seLENgkapnya......

Kepala Bagian Hukum & Ortal Pertanyakan Sidang Penetapan Logo Kabupaten Deiyai

Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Tata Laksana [Hukum & Ortal], Sekretariat Kabupaten Deiyai, mempertanyakan, proses sidang penetapan logo Kabupaten Deiyai yang hingga saat ini belum ada tanda-tanda penetapan logo yang telah dinaikan ke meja Dewan Perwakilan Rakyar Daerah [DPRD] Kabupaten Deiyai sejak tahun 2011. Dan berharap agar dapat dilakukan sidang penetapan logo ini dalam waktu dekat.

“Kami telah menaikan ke meja DPRD Kabupaten Deiyai, tapi kami bingun, karena sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk penetapan logo Kabupaten Deiyai. Kami tunggu, kapan sidang penetapan logo ini akan dilakukan. Dan kami harap, sidang penetapan ini dilakukan dalam waktu dekat ”.

Lanjutnya, “logo ini manfaatnya banyak, seperti pembuatan kartu tanda penduduk [KTP], identitas Kabupaten Deiyai, harga diri dan tentunya keberadaan logo adalah wajib bagi setiap organisasi apalagi kita ini Kabupaten”. Demikian kata, Melkianus Adii, SH di ruang kerjanya, Kantor Bupati Kabupaten Deiyai, Rabu, [29/02/2012].

Selain logo Kabupaten Deiyai, ada tiga peraturan daerah [perda] yang masih menunggu sidang penetapan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah [DPRD] Kabupaten Deiyai, yakni, Peraturan Pajak Daerah, Peraturan Retribusi Izin Tertentu, dan Peraturan Izin Usaha.

“Selain logo, ada tiga peraturan daerah [perda], yang kami masih menunggu untuk penetapan oleh DPRD Kabupaten Deiyai. Adii, menambahkan jika ketiga perda ini ditetapakan, Pendapan Asli Daerah [PAD], dan perimbangan Keuangan pusat dan daerah akan jelas dan akan meningkat pada setiap tahun anggaran”. Uajarnya.

Proses untuk membuat suatu rancangan peraturan daerah itu membutuhkan waktu, tenaga, pikiran, uang dan dilibatkan sejumlah unsur seperti Eksekutif, Legislatif dan Instansi yang bersangkutan. Dan proses untuk mendapatkan nomor peraturan juga, membutuhkan waktu yang lama. Mulai dari bagian hukum di daerah, penetapan sidang di DPRD sampai di biro hukum ditingkat provinsi untuk klarifikasi, sebelum dimasukan dalam lembatran negara.

“Proses untuk mendapatkan nomor perda itu tidak gampang, butuh waktu dan biaya, dan melibatkan banyak pihak. Jika, para anggota dewan bagian hokum dan perundagan tidak memahami, mari datang konsultasi dengan kami, atau orang yang memahami tugas ini” imbuhnya [Yeimo].

seLENgkapnya......

Proteksi Komersialisasi Nilai-Nilai Budaya Hidup orang Paniai, dalam 3 Dimensi Waktu [Dulu-Kini-& Masa Depan]

Siapa orang Paniai itu? Orang Paniai adalah manusia yang hidup di daerah Paniai yang dalam etnografi Papua disebut Suku Mee dan Migani [bukan Moni][i]. Menurut asal suku bangsanya, suku Mee dan Suku Migani berasal dari “Pupu Papa” Bagian Timur Pegunungan Tengah Papua Barat tepatnya di lembah Baliem. Dan diperkirakan mereka tiba dan menetap di daerah Paniai sejak tahun 1100 [900 tahun yang lalu][ii].

Ciri khas daerah Paniai [suku Mee dan Migani] adalah di sekitar danau-danau wisel, Dataran Kamu dan Daerah Pengunungan Mapiha/ Mapisa (Boeraars 1986:85). Namun demikian, wilayah Paniai [paniai doko] bukan hanya di diami oleh suku Mee dan Migani tetapi, ada beberapa suku lain yang telah lama hidup di daerah Paniai yaitu suku Nduga, Suku Dauwa, Suku Wolani, dan lain-lain[iii].

Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari “perubahan” di segala dimensi. Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan awal dari pada proses perubahan tersebut. Tak terkecuali, suku Mee dan Moni [orang Paniai] terlibat dalam proses itu. Dimana telah terbukti bahwa orang Paniai, telah menerima budaya lokal maupun budaya moderen. Entah melalui ajaran gereja [agama] maupun pemerintah. Untuk itu, tulisan ini dimaksudkan untuk membuka cakrawala pemikiran kita akan “proses perubahan” yang telah, sedang dan akan terjadi di Paniai secara khususnya dan Papua pada umumnya berdasarkan nilai-nilai budaya hidup orang Paniai.

Semuanya ada dan masih utuh [sebelum, tahun 1932,1940]
Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari “perubahan” di segala dimensi. Proses akulturasi dan asimilasi budaya merupakan awal dari pada proses perubahan tersebut. Tak terkecuali, suku Mee dan Moni [orang Paniai] terlibat dalam proses itu. Dimana telah terbukti bahwa orang Paniai, telah menerima budaya lokal maupun budaya moderen. Entah melalui ajaran gereja [agama] maupun pemerintah. Untuk itu, tulisan ini dimaksudkan untuk membuka cakrawala pemikiran kita akan “proses perubahan” yang telah, sedang dan akan terjadi di Paniai secara khususnya dan Papua pada umumnya berdasarkan nilai-nilai budaya hidup orang Paniai.

Bila kita telusuri sejarah dan budaya leluhur kita pada masa sebelum Misionaris [1932] dan pemerintah Belanda [1940] semua itu masih utuh, dan begitu indah dan kaya dengan kebudayaan asli mereka. Gotai Ruben Pigai [2008] dalam buku “mungkinkah nilai-nilai budaya hidup suku Mee bersinar kembali”? menjelaskan bahwa Ayah dari Ruben Pigai adalah generasi ke 7 dari dari silsilah keturunanya. Sedangkan, Ruben Pigai adalah generasi ke 8 dan anak dari bapak Ruben Pigai adalah 9. Dan Ayah dari bapak Ruben Pigai tidak menyebutkan suatu masa [generasi] yang ke 10, sebab generasi ke 10 telah tiba “hari kiamat”[iv]. Menurut Ayah dari Gotai Rubaen Pigai bahwa generasi ke 10 [generasi sekarang] tidak akan hidup semakmur seperti budaya hidup sebelumnya, yaitu beternak [ekina muni], berburu [woda ubai], bertani [taikeitai] dan lain sebagainya[v]

Suku Mee dan Migani disebut manusia karena mereka hidup diatas dua telapak kakinya sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Dan mereka memiliki struktur kehidupan yang jelas dan tersendiri yaitu pertama, mempunyai tatanan sosial yang jelas. Kedua, mempunyai tradisi yang tersusun rapi. Ketiga, tidak tergantung kepada siapapun dan menciptakan suasana hidupnya sendiri. Keempat, mempnyai rasa percaya diri yang sangat menonjol. Kelima, mempunyai kehidupan sosial yang sangat tinggi. Keenam, mempunyai identitas diri dan nilai-nilai budaya yang sangat jelas.

Bila ditinjauh dari kaca mata antroologi, tujuh jenis unsur kebudayaan secara umum dan tiga jenis wujud kebudayaan yang disebutkan oleh Koentjaraningrat, [2002] dalam buku Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Unsur-unsur dan nilai-nilai hidup budaya orang Paniai itu misalnya pertama, adanya sistem religi [kepercayaan] akan Tuhan [ugatame] sang pencipta. Kedua, sistem organisasi dan kemasyarakatan, seperti orang kaya [tonawi], dan mempunyai membina relasi yang baik dengan orang lain. Ketiga, sistem pengetahuan [epi dima mana] seperti, tahu membedahkan baik dan buruk. Keempat bahasa [Mee mana ma Migani mana ma] seperti kita [suku Mee dan Migani] mempunyai bahasa daerah [bahasa ibu]. Kelima kesenian, seperti wiyani, uga, kaido dan lain lain. Keenam, sistem mata pencahariahn hidup seperti beternak, bertani dan berburu kukus dan mencari ikan di danau. Ketujuh, sistem teknologi, dan peralatan seperti yika [kapak batu], yado/ kopa.

Orang Paniai, tidak mengenal tulisan [bentuk huruf]. Tetapi, secara lisan mereka [leluhur] telah menurunkan nilai-nilai budaya. Masa muda [yokaga ga] adalah masa dimana puncak kejajahan, keistimewaan, kebolehan. Sehingga, dalam kehidupan kehidupan orang Paniai [suku Mee], menyebut masa muda adalah masa siang hari [agapi tadi/ agapi gaa]. Disisi lain, masa ini adalah masa yang diselimuti dengan perasaan “kehati-hatian” karena masa ini gampang melewati batas-batas nilai moral budaya setempat [teritory culture]. Sebagai contoh, orang tua Mee mengatakan “yoka gaga kou peukaiko tibigi koyaka gai” [hati-hati masa muda adalah masa yang gampang jatuh kedalam pencobaan].

Anak muda laki-laki dan perempuan Paniai pada saat itu sangat mematuhi aturan adat. Karena, jika ada yang melanggar, akibatnya adalah dihukum sesuai dengan perbuatannya masing-masing. Sebagai contoh, perbuatan zina [mogai tai], hukuman yang diberikan adalah mencabut nyawa dengan cara digantungkan diatas pohon lalu dipanah dari berbagai arah. Mencuri, bila ada yang kedapan melakukan pencurian, atau mengaku melakukan pencurian, maka akibatnya adalah jari-jari tangan dibelah [gane yapetai]. Sehingga setiap perbuatan dari kecil sampai besar memunyai hukuman yang berbeda berdasarkan atas perbuatannya. Pemberian hukuman yang dianggap melanggar norma-norma budaya ini dimaksudkan untuk menyelamatkan generasi selanjutnya atau menjadi peringatan bagi orang lain.

Nilai dan aturan maskawin, adalah salah satu nilai budaya yang berlaku di hampir tiap suku di Papua. Orang Paniai sejak dulu tidak menentukan nilai minimal dan maksimal dari harga maskwin. Besar kecilnya, ukuran untuk menentukan nilai harga maskawin adalah berdasarkan atas “perilaku hidup/ karakter” para calon suami atau istri. Misalnya, seorang laki-laki muda dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang layak dilakukan oleh para laki-laki. Sebagai contoh, mencari kayu bakar, membikin kebun, membuat pagar, dan lain sebagainya. Bila seorang pemuda mampu melakukan pekerjaan seperti datas, maka harga/ nilai maskawin menjadi tidak mahal. Karena pihak perempuan menilai dia sebagai laki-laki bertanggung jawab, dan dengan harapan akan membantu saat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan banyak orang.

Sebagai manusia yang memiliki akal pikiran [dimi yago bage], orang Mee melakukan berbagai upaya untuk mencari solusi agar menciptakan damai. Misalnya, dalam perang suku atau kelurga, kedua bela pihak sepakat untuk menghentikan perang. hal ini dapat dilakukan apabila jumlah korban dari masing-masing pihak seimbang. Cara lain adalah pihak yang mengalami korban meminta denda [uang darah] kepada pihak pembunuh. Cara tuntutan model ini diberlakukan apabila perang terjadi antar hubugan darah. Dalam mencegah terjadinya perang, suku Mee Suku Mee mengenal berbagai upacara adat. Salah satu upacara adat yang erat kaitanya dengan batu paikeda adalah upacara pada saat peperangan yang disebut ritual perang [yape kamu/ yape kabo]. Dalam upaya mendamaikan peperangan itu, suku Mee mengenal dua upacara adat [ritual perang] agar perang damai atau melindungi dari bahaya perang. Kedua upacara itu diantaranya, pertama, upacara yang dilakukan dengan menggunakan batu yang disebut paikeda [paikeda mogo]. Kedua, upacara dengan menggunakan ikatan anak panah [ida boda]. Kedua upacara ini diselenggarakan pada saat perang, perkara-perkara besar, dengan tujuan agar tercipta damai, aman dan selamat [Bunai, 2007:60-63][vi].

Untuk menghidupi keluarganya, diperlukan lahan [kebun] sebagai sumber penghidupan bagi keluarganya, maka diperlukan berbagai upaya. Misalnya, memagari kebun untuk mencegah hama tikus atau babi yang sering merusak tanaman. Pada saat itu setiap keluarga dibutuhkan 3-4 lahan kebun. Orang-orang yang dulu kuat bekerja tidak seperti saat ini. Mereka membuat pagar ratusan hekatar, lalu membagi petak-petak kemudian dibagikan kepada masing-masing keluarga dalam kampung itu. Ada juga kebun di sekitar [pekarangan] rumah sebagai kebun persiapan untuk dipetik [ambil hasil kebun] pada saat hujan atau sakit. Menurut Jan Boeraars [1986], orang Mee sangat kaya dengan ikatan-ikatan sosial dan ekonomi. Kemudian, setelah ia mengadakan penyelidikan lebih mendalam, maka ternyata dibalik latarbelakannya yang “miskin”[vii], dan dibalik kegiatan “dagang”[viii] yang amat tenang ini, tersembunyi suatu kehidupan rohani, yang mampu mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam dengan pemberian bentuk simbolik yang sangat kaya.

Awal perubahan budaya orang Paniai [1933, 1940]
Kontak pertama orang Paniai dengan dunia luar terjadi dengan seorang penerbangan bernama F.T. Wessel secara kebetulan yang menemukan tiga danau [Tigi, Tage, Paniai] yang terletak di pegunungan Tengah Papua, tepatnya tanggal 31 Desember 1933, merupakan kontak pertama orang Mee dengan dunia luar. Kemudian direalisasikan melalui darat oleh para misionaris katolik dan protestan. Namun setahun sebelumnya [tahun 1932], Pastor Tilemans seorang misionaris katolik sudah mengadakan kontak awal dengan seorang tokoh orang Mee di Mapia bernama Auky Tekege di Mimika[ix].

Pendeta Walter Post bersama beberapa orang datang ke Enagotadi, melalui Kokonao dan mensurvey keadaan Paniai pada tahun 1938. Adapun hasil survei itu bertemu dengan beberapa orang kepala suku diantanya; Uwatawogi Yogi, Idanato Yogi, Boadituma Mote, Okaitobi Tebai. Orang Paniai [orang-orang yang bertemu dengan Walter Pos], melihat orang Barat lalu mereka heran, seketika melihat kulit putih karena mengira bahwa mereka anak kecil sebab kulitnya putih licin seperti anak bayi yang baru lahir. Para pendatang heran karena melihat kesejahteraan serta kemakmaran rakyat. Masyarakat hidup sehat karena selalu memakan makanan bergizi, yaitu daging babi, 14 jenis udang di danau dan kali, kus-kus pohon, segala macam jenis sayur mayur serta petatas dan keladi. Dan tidak ada penyakit hanya ada penyakit kulit [Frambusya][x].

Motivasi awal perubahan budaya orang Paniai, terjadi ketika orang Paniai merasa tertarik dengan benda-benda logam seperti kapak, parang, pacul, dan skop sebagai tanda awal terjadinya kontak dengan dunia luar. Selain itu para pendantang juga memperkenalkan alat masak seperti garam, kuali dan lain-lain, kepada masyarakat setempat. Dan pada saat itu muncullah istilah tuan “ogai”[xi]. Kemudian pengawai lokal pun disebut juga disebut ogai. Para misionaris dan pemerintah Belanda mulai memperkealkan budaya baru[xii].

Paikeda warisan budaya orang Paniai, dengan berbagai bentuk benda [batu, kayu, pigu, dogi, obai, ida, ipa, manik-manik]. Dan dapat disebut sebagai wujud kebudayaan orang Paniai [Konetjaraningrat, 2002:2]. Namun, kebudayaan hidup ini telah hilang, dengan adanya kedatangan para misionaris[xiii], dan pemerintah Belanda[xiv] [Pekei, 2008:261-273]. Sebelum injil dan pemerintah Belanda masuk di daerah Paniai yaitu tahun 1940, kebudayaan orang Mee masih asli [Pigai, 2008:1-28]. Menurut Pigai, kehidupan suku Mee dengan sangat jelas terlihat dalam menghargai antara antara alam dengan manusia. Dimana, keduanya saling membutuhkan, misalnya manusia mengikuti norma-norma adat yang diturunkan oleh alam melalui mimpi atau penglihatan agar tetap mejaga keharmonisannya.

Kini orang Paniai tiba di persimpangan jalan “kebingungan” [1990-2000-an]
Kini menurut hemat saya [Yunus Yeimo], semua kekayaan kebudayaan, nilai-nilai hidup budaya orang Mee yang pernah ada dan yang menghantar manusia Mee sampai pada saat ini telah hilang. Penyebabnya adalah kita [generasi sekarang], telah mengidap virus “ikut-ikutan”, kemudian kitalah yang menghakimi budaya kita sendiri dengan dalil budaya itu, “kuno, ketinggalan, tradisional, kampungan, primitif, masa bodoh, zaman batu” dan sebainya dan seterusnya. Disini diperlukan suatu kesadaran diri akan pentinnya, faktor budaya dalam segala aspek kehidupan manusia. Karena saat ini dimana, mana telah kehilangan diri sebagai manusia berbudaya, yang pernah ada yang dimiliki oleh setiap suku bangsa yang ada di dunia.

Lalu bagaimana dengan masa depan nilai-nilai unsur budaya yang dari setiap suku bangsa? Karena budaya adalah dasar hidup, ciri khas/ identitas, pedoman, sumber inspirasi dan lain sebagainya. Batu paikeda, telah hilang atau masih ada? Jika masih ada mungkin unsur budaya tidak semurni dulu. Sebuah pertanyaan untuk kita sekarang adalah apakah kita ingin jadi pelestari budaya atau justru jadi pemusnah budaya? Jawabanya kembali pada setiap insan sebagai orang yang menganut budaya itu apapun jenis budayanya. Aki kida/ koda Gayake gai ma dou ma tai, ekowai beugakouya. “Halabok... for my culture and nature...Paniai....!!!???”

[i] Disebut “Migani” layak untuk sebutan nama suku [Moni] karena Migani artinya Manusia. Istilah Migani adalh merupakan hasil diskusi yang diselenggarakan oleh IPMAPAN Yogyakarta, pada tanggal 18 April 2008

[ii] Gotai Ruben Pigai, Mungkinkah Nilai-nilai Budaya Hidup Suku Mee Bersinar Kembali? [Jayapura, 2008], hal. viii.

[iii] Titus Christ Pekei, Manusia Mee di Papua, proteksi kondisi masa dahulu, sekarang dan masa depan diatas pedoman hidup, [Yogyakarta, 2008], hal. 206.

[iv] “Hari kiamat” yang dimaksud disi adalah masa hidup generasi ke 10.

[v] Pigai, Op. Cit. hal.1

[vi] Yunus E. Yeimo [Materi Diskusi dan Nonton Film Dokumenter “Batu Paikeda”], yang diselenggarakan oleh Panitia Natal, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Paniai-Nabire Yogyakarta. Yogyakarta, 15 Desember 2008.

[vii] Disebut “miskin” karena penulis adalah orang yang telah lama mengenal teknlogi, rumah mewa, mobil dan sebagainya, sehingga ia membandingkan kehidupan di dunia barat dan orang Mee. Dan dapat diakui bahwa pada saat itu kehidupan orang Mee masih primitif, tetapi bagi orang Mee tidak mengenal yang namanya pritif.

[viii] Orang Mee sejak dulu mengenal sistem perdagangan dengan suku lain, seperti Amungme dan Kamoro di Timika. Suku Migani di bagian timur daerah Paniai.

[ix] Ruben Pigai, kontak awal Auki Tekege dengan Pastor Tilemans pada tahun 1938. hal 30-31

[x] Pigai, Op. Cit. hal. 29-37

[xi] Istilah tuan atau disebut “ogai” sendiri awalnya dipakai untuk penyebutan orang misionaris, dan pemerintah Belanda.

[xii] Ibid. hal 261-262.

[xiii] Misionaris adalah sebutan bagi para penginjil/ pendeta Kristen, yang datang dari Belanda di tanah Papua, untuk menginjili kabar keselamtan. Kontak pertama orang Mee dengan dunia luar pada tanggal 31 Desember 1933.

[xiv] Pemerintah Belanda masuk di daerah Paniai pada tahun 1941.

Acuan Kepustakaan
1. Adii, Geradus [2002] Bebas Dari Kuasa Kegelapan di Tanah Papua, Gereja Kemah Injil Indonesia [GKII] Wilayah Irian Jaya; Jemaat Zebaoth Jayapura.
2. Boelars, Jan [1986] Manusia Irian,Dahulu, Sekarang dan Masa Depan,Gramedia; Jakarta.
3. Bunai, Tanimoyabi Yoseph, [2007] “Mobu dan Ayii, Jalan Menuju Keselamatan Inisial dan Kekal Menurut Suku Mee di Papua; Elmasme “Gaiya” dan Dewan Adat Paniyai.
4. Dumupa F. Yakobus [2006] Berburu Keadilan di Papua Barat, Mengungkap Dosa-dosa Politik Indonesia di Papua Barat. Pilar Media, Yogyakarta.
5. Gobay, D. Mekaa [2007] Perempuan Papua Barat, Dalam Kekerasan Militer, Budaya, Ekonomi dan Kesehatan, Sumbangsih Press; Yogyakarta.
6. Pekei, Christ, Titus [2007] Manusia Mee di Papua, Proteksi Kondisi Masa Dahulu, Sekarang dan Masa Depan diatas Pedoman hidup, Galang Press; Yogyakarta.
7. Pigai, Gotai, ruben [2008] Mungkinkah Nilai-nilai Buadaya Hidup Suku Mee Bersinar Kembali?, Deiyai/ Yakama; Jayapura.
8. Konetjaraningrat, [2002] Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.
9. ------------------------ [1963] Penduduk Irian Barat, Penerbit Universitas; Jakarta.
10. Yeimo, Amopiya Yunus [Laporan Hasil Penelitian 2008] Studi Tipologi Arsitektur Tradisional dan Kearifan Membangun Suku Mee Papua. YAMEWA-PAPAUA. Paniyai.

seLENgkapnya......

Deiyai Belum Pagari Dengan Perda

Kabupaten Deiyai sebagai satu kabupaten pemekaran dari Paniai, diharapkan dari sekarang bisa memagari daerah dengan produk hukum yang mampu memproteksi daerah dan masyarakat dari berbagai pengaruh luar. Untuk itu, pihak Eksekutif dan Legislatif di Kabupaten Deiyai diminta dapat menetapkan sejumlah peraturan daerah (Perda).

Demikian diungkapkan Ketua ARDINDO Kabupaten Deiyai, Yance Amoye Mote kepada Papuapos Nabire, Kamis (26/1) kemarin. “Sampai saat ini Peraturan Daerah atau Perda tidak ada satupun yang dihasilkan untuk mengatur berbagai hal yang terkait langsung dengan kebijakan dan pengembangan ke depan,” tuturnya.

Suatu Perda sebagai produk hukum daerah, kata dia, diharapkan agar bisa memagari daerah dan masyarakat, juga penting dalam kebijakan pembangunan dan pengembangan di masa mendatang. “Perlu ada regulasi daerah, karena kalau bicara tentang hidup dan kehidupan, maju mundurnya tingkat pembangunan maupun sejahtera tidaknya ditentukan dari aturan daerah,” ungkap Yance.

Disebutkan beberapa aturan daerah atau Perda yang harus digodok dan ditetapkan dalam waktu sekarang antara lain tentang pendapatan ekonomi rakyat, kesehatan, lingkungan hidup, dan yang lebih penting adalah Perda Minuman Keras (Miras) dan Prostitusi.

“Perda itu ibarat pagar yang bisa memberikan perlindungan dan kenyamanan bagi orang atau kelompok yang mendiami atau kata lain Edaa Wagii. Edaa Wagii yang saya maksudkan adalah harus dibuat segera untuk menghindari ancaman global, ancaman buruk akibat pengaruh-pengaruh dari luar, kita pagari kemungkinan kemungkinan buruk ketika kemungkinan itu datang,” tuturnya.

Selain itu, Yance juga menyinggung bahwa Kabupaten Deiyai berada dalam kondisi terancam. “Soal terancam dari apa, itu jawab saja sendiri. Kalau bisa, hentikan kegiatan keluar daerah, masalah ada di daerah, bukan di Jakarta atau daerah lain. Jadi, datang dan duduk tanyakan koordinasi dengan masyarakat dan dinas terkait. Sekarang daerah kita ini sudah mau tiga tahun usianya sejak dimekarkan, tapi mana Perda yang dihasilkan? Tidak ada,” tandasnya. (you)

seLENgkapnya......

DPRD Deiyai Belum Awasi Pembangunan?

Sebagai wakil rakyat Kabupaten Deiyai yang memiliki wewenang dan fungsi melekat, anggota dewan dinilai belum menjalankan tugasnya secara maksimal. Hal itu terlihat dari tiadanya pengawasan terhadap setiap program pembangunan yang dikerjakan pihak Eksekutif melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Deiyai.

Penilaian ini disampaikan Ketua Umum Forum Pelajar dan Mahasiswa Deiyai (Forkompade) Jawa-Bali, Elias Bidaugi Pigome, kemarin. Menurutnya, Anggota DPRD di Lembaga Legislatif belum memainkan perannya terutama fungsi pengawasan di lapangan.

“Seharusnya anggota dewan jangan diam diatas semua keluhan masyarakat Deiyai yang merindukan adanya perubahan di daerah. Jika selalu diam saja, lantas siapa yang akan mengontrol pembangunan di Kabupaten Deiyai?,” ujarnya.

Untuk itu, harap Elias, anggota DPRD harus berperan aktif mengontrol setiap kegiatan pembangunan. Perlu pengawasan di lapangan, apakah kegiatannya sudah dilakukan, sedang dalam pengerjaan atau mungkin belum efektif dan lain-lain. “Dewan dipilih oleh rakyat supaya perjuangkan aspirasi, kontrol pembangunan, dan fungsi legislasi dan budgeting. Itu fungsi melekat seorang wakil rakyat di DPRD,” tandasnya.

Nama Deiyai yang dijadikan nama kabupaten, dulunya dikenal Tigi. Pemberian nama kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Paniai, kata Elias, tentunya bermanfaat karena adanya pembangunan yang langsung dirasakan masyarakat akar ramput.

“Jika pembangunan sudah dilaksanakan, maka tugas dewan untuk mengawasi dan memonitoring langsung di lapangan. Jika ada yang tidak selesai atau tidak beres dalam realisasinya, panggil pihak SKPD terkait dan pertanyakan. Saya lihat ini belum dilakukan oleh anggota DRD Deiyai,” tuturnya.

Elias menyebutkan fakta ketika kontraktor yang bekerja untuk pekerjaan fisik dan non fisik di Kabupaten Deiyai pada tahun 2011 yang tidak selesai itupun tidak dipertanyakan kepada kontraktor tersebut. DPRD hanya bungkam. “Contohnya pembangunan jalan menuju Debey yang pernah dipublikasikan melalui Papuapos Nabire. Tahun 2011 itu katanya akan dibangun jalan sepanjang 4 KM, tapi itu juga tidak diselesaikan, tidak ada pengawasan,” ungkapnya mempertanyakan.

Begitupun jembatan dan pembangunan lain yang sedang dikerjakan, kata dia, belum dikontrol seluruhnya oleh anggota DPRD. “Kalau begini, tugas dan fungsi dewan itu apa saja. Sekedar dapat kursi dan sibuk urus proyek pribadi ataukah mereka dipilih oleh rakyat untuk kepentingan rakyat?.”

Elias mensinyalir jika faktanya setiap pembangunan tanpa ada pengawasan, jangan sampai ada “main mata” antara pihak kontraktor, oknum anggota dewan dan instansi teknis terkait. Seharusnya anggota DRPD bersuara untuk pembangunan dan pengembangan ke depan. Jika tidak bersuara demi perubahan Deiyai, bisa jadi karena hanya mencari kepentingan sendiri dalam proyek pembangunan. Yang kedua, anggota dewan malas memantau kegiatan pembangunan di lapangan. Ketiga, mungkin kerjasama dengan kontraktor dan instansi karena ada kepentingan tertentu. Keempat, bisa jadi ada unsur kesengajaan, dibiarkan semaunya kontraktor tanpa melihat kebutuhan atau kepentingan masyarakat.

“Mungkin saja mencari kepentingan selama menjabat sebagai DPRD tanpa melihat faktor-faktor yang terjadi di lapangan segala kegiatan di Deiyai. Semua kepentingan terjadi, sehingga banyak kegiatan dibiarkan tanpa kontrol yang jelas,” tutur Elias.

Disebutkan lagi satu program yang sudah diketahui publik dan ditetapkan oleh pemerintah daerah dan disetujui DPRD melalui rapat internal untuk anggarkan dana asrama permanen saja tidak jelas hingga saat ini.

“Mungkinkah SKPD terkait yang tangani dana untuk asrama permanen di Yogyakarta itu bisa diungkap oleh dewan? Nyatanya tidak, jadi kesannya semua mencari kepentingan tertentu diatas penderitaan masyarakat dan mahasiswa,” keluhnya. (you)

seLENgkapnya......

KNPI Deiyai Tengah Mendata Potensi dan Bakat Pemuda

Ketua KNPI Kabupaten Deiyai, Tino Mote kini tengah mendata seluruh potensi dan bakat yang dimiliki pemuda di daerah itu. Pendataan ini memiliki arti penting dengan tujuan KNPI akan negosiasi dengan pemerintah daerah, untuk melibatkan para pemuda dalam setiap bidang pembangunan.

“Jika kita sudah memiliki data potensi dan bakat dari pemuda, kita tinggal nego pemerintah daerah maupun SKPD yang ada di daerah ini. Dengan potensi dan bakat yang dimiliki, kita tawarkan kepada SKPD maupun pemerintah daerah untuk menggunakan pemuda ini untuk menjalankan program di masing-masing SKPD. Supaya istilah menjadi tuan di atas negeri sendiri bukan sebatas kata-kata,” tutur Tino Mote kepada media ini, kemarin.

Dirinya sebagai Ketua KNPI Deiyai meminta kepada seluruh SKPD dan pemerintah daerah untuk mendukung program yang ditetapkan Ketua KNPI Deiyai. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk SKPD dan pemerintah daerah makan tujuan Ketua KNPI dapat terwujud.

“Saya sebagai Ketua KNPI Deiyai tidak akan membiarkan pemuda begitu saja tanpa terurus. Dan pemuda pun sangat mendukung seluruh program pemerintah daerah dan SKPD. Jika pemuda mampu untuk berkarya, mari SKPD dan pemerintah daerah berikan kepercayaan kepada pemuda untuk menjalankannya,” harap Tino Mote. (ros)

seLENgkapnya......

STT Widiyaibi Onago Wisudakan 8 Mahasiswa

Sekolah Tinggi Theologia (STT) Widiyaibi, Onago, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, untuk pertama kalinya mewidukan 8 orang mahasiswa. Wisuda dilaksanakan dalam rapat senat terbuka di Aula Kingmi Waghete, Sabtu (18/2) kemarin.

Delapan orang yang diwisudakan masing-masing dari dua jurusan, yakni Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan Theologi. Tampak hadir dalam acara tersebut, Ketua Sinode Kingmi Papua, Dr. Benny Giay, Ketua STT WP Jayapura, Dr. Noak Nawipa, Ed.D, Penjabat Bupati Deiyai, Hengky Kayame, SH, M.Hum dan seluruh jajaran teras Pemerintah Kabupaten Deiyai.

Tak ketinggalan para dosen ikut menghadiri acara wisuda perdana tersebut. Ratusan warga dan keluarga dari peserta wisudawan-wisudawati juga ikut hadir. Acara wisuda dimeriahkan lagu-lagu dari Kelompok Paduan Suara Mahasiswa-mahasiwi STT Widiyaibi Onago.

Ketua Sinode Kingmi Papua, Dr. Benny Giay, dalam kotbahnya mengharapkan kepada para wisudawan-wisudawati agar harus menjadi bintang yang bisa menerangi dunia kegelapan dimasa ini. Sebab kini dunia tengah diselimuti oleh berbagai persoalan termasuk virus berbahaya, HIV/AIDS.

“Kalian akan diutus ke dunia bukan di awan-awan, maka harus melayani jemaat di tempat tugas dengan sepenuh hati,” ujarnya di hadapan ribuan warga yang menyaksikan acara tersebut.

Benny juga mengatakan, dunia pendidikan Kingmi kini memasuki ambang kehancuran. Untuk menghidupkannya perlu ada partisipasi dari basis bawah. “Para Ketua Klasis se-Tanah Papua harus memberikan dukungan kepada lembaga sekolah (STT) agar pendidikan kita bisa dihidupkan kembali,” tandasnya.

Ia mengakui betapa sulitnya tugas seorang gembala, terutama dalam menghidupkan keluarganya dalam pelayanan. Selain masalah kebutuhan, medan pelayanan pun menjadi persoalan tersendiri. “Namun sebagai rasul-rasul, maka pergilah dan wartakan kabar gembira ke seluruh dunia,” kata Benny Giay dalam perutusannya.

Ketua STT WP Jayapura, Dr. Noak Nawipa mengatakan, jumlah alumni STT WP Jayapura saat ini sudah bertugas di seluruh Tanah Papua. “Dari tahun 1996 sampai 2012 ini mencapai 8.88 orang sarjana muda dan Sarjana penuh yang sudah lolos dari STT Walter Post,” kata Noak yang juga calon Gubernur Papua itu.

Sementara Penjabat Bupati Deiyai, Hengky Kayame, SH.MH dalam sambutannya, mengatakan, dirinya bersama jajaran siap mendukung program pendidikan di kampus STT Onago. Untuk itu, Penjabat Bupati meminta kepada Kepala Dinas Pendidikan agar mendata seluruh kekurangan pembangunan fisik. (you)

seLENgkapnya......

Carateker Deiyai Maju Pemilukada Paniai, Tim PPKD Minta 01 Papua Menunjuk Plh Bupati

Tim Peduli Pembangunan Kabupaten Deiyai (PPKD) menyampaikan ke Gubernur Provinsi Papua bahwa pada hari Jumat, 24 Februari 2012, Bupati Carateker Kabupaten Deiyai, Hengki Kayame telah resmi mendaftar menjadi Calon Bupati pada Pemilukada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Paniai.

Untuk itu, mohon Gubernur Papua memproses pengantian atau membuat radiogram penunjukan Plh Bupati Deiyai hingga penunjukan Carateker Bupati Deiyai guna ataupun untuk melanjutkan tahapan Pemilukada Deiyai.

Demikian terang, Melky Pekey mewakil tim PPKD dan juga menjabat Sekretaris Tim PPKD Deiyai.

Terangnya, Carateker Bupati Deiyai saat ini, terhitung mulai kemarin telah mendaftar sebagai calon Bupati Paniai, dengan demikian dan agar roda Pemerintahan Kabupaten Deiyai tidak fakum pasca pendaftaraan serta kelancaran tahapan Pemilukada Deiyai, maka Gubernur Papia segera menunjuk Plh Bupati.

Selanjutnya, tambah Melky, menetapkan penjabat bupati sesuai mekanisme yang ada. Untuk itu, tim peduli pembangunan Kabupaten Deiyia mengharapkan dan meminta kepada Gubernur Provinsi Papua untuk segera menunjuk Plh Bupati Deiyai agar roda pemerintahan berjalan dan kelancaran tahapan Pemilukada Deiyai pun berjalan dengan baik.(wan

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com