God Bless You All and Me

16 September 2012

Ketika kita jadi Tuan diatas Tanah kita sendiri. Apa yang harus kita lakukan ?

Oleh : Jemmy G. Adii, SE

Kalimat ini pantas menjadi topik atau judul pembuka dari tulisan saya ini. Kenapa dan bagaimana tulisan ini saya tulis dan apa sebabnya tulisan ini bisa saya sajikan dan naikan ke dunia maya, baik melalui media elektronik dan cetak ? Kenapa dan bagaimana tulisan ini bisa ditulis ? Perlu kita ketahui bersama, bahwa melalui Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus-red) No. 21 tahun 2001 (11 tahun silam-red) tentang pemberlakukan Otsus di Tanah dan Daerah kita Papua ini. Sudah jelang 12 tahun tepatnya, pemberlakukan Otsus di Tanah Papua yang kita cintai ini. Dengan hadirnya UU Otsus tersebut, keinginan rakyat Papua untuk menjadi tuan diatas tanahnya sendiri naik kepermukaan, sesuai berbagai bidang, terutama di dunia kerja swasta maupun negeri. Mau tidak mau, suka atau tidak suka harus pihak yang berkompoten yakni Pemerintah maupun Perusahaan wajib berdayakan masyarakat local atau asli daerah setempat. Dengan demikian, apakah ketika permintaan itu secara perlahan-lahan mulai terkabul, pantaskah kita sesama rakyat Papua harus saling caci maki, saling iri hati, saling tidak baku senang, saling beradu argument, saling siku menyiku, saling jual menjual, saling bermusuhan, saling ejek mengejek dan masih banyak lagi kata-kata kren negative lainnya ? (Ini pertanyaan untuk kita semua, dan jawabannya ada pada kita orang Papua sendiri). Sesuai pengalaman saya, ketika saya hendak menjadi tuan diatas tanah saya sendiri yakni saya bekerja di Kabupaten Deiyai (Kabupaten yang baru dimekarkan 3 tahun lalu dari Kabupaten induk Paniai yang beribu kota di Madi-red). Apakah tidak pantaskah saya harus menjadi Sekretaris Pribadi (Sekpri) di kator apa saja? atau menjadi Operator Komputer? atau menjabat jabatan apa saja di instansi manapun ? ataukah saya harus tetap terus menonton orang lain yang merebut pekerjaan saya ini, sementara UU Otsus menuntut kita sebagai putra daerah harus menjadi tuan diatas tanah kita sendiri? (Ini menjadi pertanyaan terberat saya saat ini, berdasarkan fakta dan realita yang terjadi dalam kehidupan saya akhir-akhir ini). Sudah sepantasnyakah saya harus tinggal diam dan membisu di negeri saya sendiri, ataukah saya terus menerus meniti karir saya, walaupun banyak intimidasi, teror, bahasa yang tidak-tidak dan lain sebagainya datang silih berganti dalam kehidupan saya ditengah-tengah kesibukan saya saat menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam perkerjaan saya saat ini di Kabupaten Deiyai. Apa sebabnya ? Tulisan ini ditulis, penyebabnya, karena kita sendiri orang Papua saling baku iri hati antara satu dengan lainnya, saling baku jual dan lain sebagainya (Faktor Irihati menjadi kebiasaan hari-hari kita orang Papua seluruhnya di Tanah Papua dan Papua Barat, lantaran ketidaksenangan orang lain hidupnya baik atau pekerjaannya baik-red). (Sebenarnya, sudah sangat jelas sekali kita dengan sendirinya bekerja untuk saling mendukung, saling kerjasama, saling bahu membahu atau bahkan saling memberikan argument yang positif thingking, bukan sebaliknya yang negative thingking ! Saya secara pribadi, sangat bangga sekali, karena dibalik dari pekerjaan saya, ternyata masih ada orang lain (Masayarakat, Pemuda, Pelajar, Mahasiswa, Intelektual, dan teman sekerja di Pemerintahaan-red) yang secara terus menerus dari waktu ke waktu selalu menilai, melihat dan menvonis saya sebagai orang yang memang tidak pantas bekerja disuatu pekerjaan tertentu baik itu bekerja sebagai Sekpri, Operator Komputer atau pekerjaan Staf PNS. Pasalnya, yang menurut mereka saya tidak pantas bekerja disitu (Instansi Pemerintah tertentu-red) apalagi membantu orang tua, saudara, teman, kakak, adik, paman, bapade, tete, nene dan siapa saja. Namun, sebaliknya. Saya divonis bekerja untuk “Keluarga”. Padahal, status atau identitas saya sendiri sangat jelas yakni ber-IJAZAH SARJANA, ber-NIP, dan pengalaman (SKILL) saya tidak seberapa, tapi saya mencoba belajar untuk bekerja meniti karir di kampung halaman saya sendiri yakni Kabupaten Deiyai yang saya dicintai ini. Hal-hal semacam inilah yang harus kita sebut bahwa kita bekerja dan menjadi tuan diatas tanah kita sendiri? Ataukah kita harus menyeleweng dari itu ? Karena telah jelas bahwa hal yang namanya ejek mengejek, iri hati dan lain sebagainya tak pantas kita lakukan. Pada hal kita sendiri disebut sebagai Makhluk yang mulia, yang diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan gambar dan rupa Allah itu sendiri (kita bisa baca dalam kitab Kejadian di Perjanjian Lama). Bagi saya, tantangan ini adalah mengawali masa kerja saya sebagai PNS angkatan pertama di Kabupaten Deiyai yang adalah kampung halaman saya. Akhir kata kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi…!!! Semoga dengan tulisan saya ini menjadi bahan diskusi bagi kita bersama saat sekarang, esok dan selamanya. (Penulis adalah PNS Putra Daerah Deiyai dari Distrik Tigi Timur yang mengabdi di Pemerintahaan Kabupaten Deiyai)

2 komentar:

E.I Sapoetra St.Mt said...

Kita tidak tahu akan dilahirkan sebagai apa dan dari ibu yang mana. Semua berjalan atas kehendak Tuhan. Saya tersentuh dengan kata kata kakak jemmy bahwa kunci kemakmuran adalah hati yang bersih. Tuhan tidak pernah pilih kasih apapun agama yang dianut, apapun warna kulitnya Tuhan tetap menurunkan rahmatnya. Yang terpenting bagaimana kita berbuat untuk kebaikan saudara kita di papua.

E.I Sapoetra St.Mt said...

Kunci sebuah kejayaan adalah hati yang bersih. Sebab Tuhan tidak pernah pilih kasih kepada hambaNya. Semuanya diberikan berkah semua dicukupi dan kembali ke kita bagaimana kita bekerja keras untuk menggali rejeki yang bertebaran di bumi papua. Kita tidak tahu akan dilahirkan dari ibu yang mana, kita tidak tahu akan lahir dari suku apa namun yang jelas kita sama sama manusia yang punya hati dan nurani
Salam buat sahabatku Jemmy semoga menjadi tuan di negeri sendiri.

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com