God Bless You All and Me

04 September 2011

Hak dan Kewajiban harus Seimbang

Penjabat Bupati Kabupaten Deiyai, Hengki Kayame, SH, M.Hum dalam pertemuan dengan para guru-guru di Aula Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai beberapa pecan lalu menegaskan bahwa ketika kita (Guru-Guru, red) menuntut hak-hak kita, jangan lupa kewajiban kita. Dalam artian menurut Kayame, “Kita bisa saja menuntut hak kita, asalkan tidak terlepas dari kewajiban kita yang harus kita laksanakan. Sebaliknya jangan kita minta, hak namun kita perdulikan kewajiban kita. Jadi hak dan kewajiban yang kita lakukan harus seimbang,”tegasnya dihadapan Guru-Guru di Aula Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai, beberapa pecan lalu.

Terkait dengan hal Insentif dan Kesejahteraan, Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Deiyai, Athen Edowai, S.PAK sangat mengharapkan agar supaya tidak ada oknum-oknum tertentu yang membesar-besarkan persoalan khususnya di bidang Pendidikan, jika selagi persoalan itu bisa diselesaikan. Untuk itu, kata Athen, sangatlah dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, seperti Guru, Dinas Pendidikan dan Pemerintah, supaya persoalan itu bisa diselesaikan dengan aman dan damai.

“Jika adanya kerjasama yang baik antara semua pihak, maka persoalan pun yang terjadi tentunya akan diatasi pula secara bersama dalam waktu yang singkat,”tegasnya.

Ketika ditanya mengenai hak Insentif dan Kesejahteraan yang terlambat dan kepastian pembayarannya. Kepada Bintang Papua, Sabtu (3/9) Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Deiyai, Johanis Adii, S.Pd mengatakan perlu diketahui bahwa yang menghambat proses pencairan dana Insentif dan Kesejahteraan bukan dari Kepala Dinas melainkan dari Oknum-Oknum yang ada di Dinas bahkan yang memperlambat pencairan adalah Plth. Bupati Deiyai, berinisial BB, BA (yang kini menjabat sebagai Sekda Kabupaten Deiyai, red) dan dibagian Keuangan Setda Kabupaten Deiyai. Jangan ada oknum yang melemparkan batu kemudian sembunyi tangan. Kita bekerja di Deiyai harus bekerja dengan berjiwa Nasionalis, bukan Isme.
Untuk itu, Kata Kadin, proses pembayaran dana Insentif dan kesejahteraan akan dibayarkan usai lebaran. “Dana Insentif dan Kesejahteraan II Triwulan ada. Kami bisa bayar, tetapi maunya Guru-Guru harus 4 Triwulan, jadi yang jelasnya, pembayaran Insentif dan Kesejahteraan 4 Triwulan akan dibayarkan usai lebaran”. (cr-35/jga)

seLENgkapnya......

Masyarakat Sipil Jadi Korban Keresahan Dan Traumatis

Ketua Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (LPPNRI) Kabupaten Paniai, Esebius Gobai kepada Wartawan Bintang Papua diruang kerjanya Kamis (2/9) lalu mengatakan dirinya sangat memprihatinkan karena masyarakat sipil yang menjadi korban keresahan dan traumatis, hanya karena kepentingan yang terjadi di Kabupaten Paniai pada belakangan terakhir ini. Menjadi pertanyaannya dengan kejadian-kejadian ini, siapa yang akan bertanggung jawab atas terjadinya situasi tersebut ?

Dikatakannya, pemulihan situasi demikian ini perlu partisipasi aktif dari berbagai unsur atau stakeholder baik itu Penguasa Daerah atau Pemerintah Eksekutif dan Legislatif juga POLRI/TNI dan Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Lembaga-lembaga peduli kemanusiaan lainnya yang ada di kabupaten Paniai ini .

Sementara itu, Ketua LPPNRI juga menghibau kepada kepala-kepala Distrik dan Kepala-kepala kampung bahwa terus memberi pemahaman kepada masyarakat sipil jangan terprovokasi terhadap informasi yang sudah, sedang dan akan berkembang yang sifatnya meresahkan sekalipun.

Ia berharap kepada pihak keamanan yang berkompoten di daerah ini seperti TNI dan POLRI baik Organik maupun nonorganik untuk dapat menjaga stabilitas keamanan diwilayah hukumnya masing-masing baik ditingkat Distrik maupun Kabupaten sebagai Abdi Negara dan Bangsa.

“Mewujudkan Paniai Daerah Zona Damai adalah tugas kita bersama baik Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, Tokoh Agama, Tokoh Perempuan, Akademisi dan Intelektual bahkan pula lembaga-lembaga peduli masyarakat. Kita semua harus bergandeng tangan melihat dan mencegah bakal terciptanya hal-hal yang tidak kita inginkan, yang datang dengan berlatar belakang apa dan bagaimanapun adalah tanggung jawab kita bersama,”tegasnya.

Ditambahkannya, dirinya sebagai pimipinan Investigasi Hukum dan HAM daerah bertugas sebagai perpanjangan tangan dari Komisi Pemberantasan Korupsi di tingkat Pusat dan Provinsi, akan tetap bekerja demi rakyat. Jika ada masyarakat sipil yang menjadi korban tanpa adanya kesalahan, tentunya dapat diproses secara hukum yang berlaku di Negara ini. (cr-35)

seLENgkapnya......

Guru Rakyat Yang Terlupakan

Pendidikan untuk semua (Education For All) adalah bertalian dengan amanat Undang-Undang bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan yang layak. Realitas menunjukkan bahwa pada tataran implementasinya dua kutub pendidikan seperti pendidikan nonformal dan Informal tidak digarap secara maksimal. Jika demikian siapa bertanggungjawab ?

Entahlah dalam rubric ini hendak menampilkan secercah pemikiran dari seorang ibu rumah tangga (Assa Kayame, red) yang memiliki komitmen tinggi untuk mendidik rakyat dari Distrik Paniai Barat, Kabupaten Paniai. Menurut bincang-bincang dengan penulis belum lama ini dengan Ibu Assa Kayame yang dikenal dengan sebuah julukan GURU RAKYAT, sapaan seperti ini dilontarkan oleh para warga belajar yang ia (Assa Kayame, red) didik setiap sore hari. Secara spontan, ibu dari lima`anak ini menjelaskan “Awal mula munculnya keinginan untuk mengajar adalah sebuah karunia yang langsung Tuhan berikan kepada saya”ujarnya.

Ibu yang kesehariannya rajin membaca Alkitab ini mengutarakan bahwa dirinya tidak pernah sekolah pada jenjang sekolah dasar (SD) sekalipun tetapi ia punya Tuhan yang memberikan karunia sehingga dirinya mengajar kepada masyarakat yang sama sekali tidak tahu membaca, menulis, dan menghitung (3M). Ketua kaum ibu sidang jemaat Emanuel Ikotu klasis Paniai Barat ini berujar bahwa sejak pertama sekali Ia muncul keinginan lantaran para kaum ibu ini tidak bisa membaca alkitab justru tidak tahu baca dan tulis, setelah pulang kerumah saya berpikir panjang lebar mengapa warga jemaat lain tidak tahu baca, namun akhirnya bisa membaca juga.

Kerinduan seperti ini semakin membara dalam hati nurani ibu Assa. Ketika itu pula langkah kongkrit yang ditempuh adalah mengajar kepada suaminya Yusup Mote dan Anak Kandungnya Orison Mote yang kini mengenyam pendidikan di jenjang pendidikan sekolah lanjutan pertama (SLTP). Menurutnya, “Tugas pokok saya sebagai ibu rumah tangga tidak bisa saya lepas dan tugas sambilan yang saya manfaatkan adalah mengajar kepada warga belajar. Selanjutnya orang pertama yang diajar selain suami dan anak kandung saya adalah empat orang ibu rumah tangga.

Disela-sela waktu mengajar penulis mendatangginya dan secara polos, ibu yang puluhan tahun mengabdi sebagai Guru Rakyat ini dengan polos mengakui bahwa dalam proses belajar dan mengajar saya tidak biasa menggunakan media pembelajaran dan atau buku-buku penunjang lainnya sebagai acuan dasar, tetapi materi dan metode ajar muncul dalam hati kemudian saya transfer kepada warga belajar. Pasalnya, proses belajar ini saya mengandalkan Tuhan Yesus, jadi sebelum ajar selalu dibuka dengan Doa lalu ditutup dengan doa juga,”tuturnya.

Anak pertama dari Dewaituma Kayame ini menuturkan bahwa disekolah formal dirinya mengajar SD kurang lebih 6 tahun dan mengajar SMP/SMA kurang lebih 3 tahun, sementara untuk warga belajar yang diajarnya selama 4 tahun. Anak-anak didiknya yang diajarnya sudah pintar membaca dan menulis, kemudian setelah ditamatkan lalu menerima warga belajar yang baru. Istri dari Yusup Mote ini juga mengatakan bahwa soal honorarium setiap ia mengajar berbeda-beda. Misalnya, khusus yang ibu-ibu janda tidak diminta honor sedangkan yang bersuami istri dan yang dianggap mampu diwajibkan upah mengajar sebesar Rp. 20.000,- setiap warga belajar (WB). Sedangkan Honor dan bantuan dari luar seperti Peralatan Belajar tidak pernah diperhatikan oleh pemerintah hingga sekarang.
Sejak itu juga ia berujar bahwa sejak tahun 1984 sekelompok ibu-ibu datang ke rumah untuk meminta di ajar. Anehnya sejak datang kerumah ia melontarkan dua pertanyaan pada calon warga belajar antara lain Mau selesai 6 tahun ? atau 4 bulan ? kalau 6 tahun dirinya tidak tahu tetapi kalau diajar selama 4 bulan ia mampu ajar. Kedua pertanyaan seperti dilontarkan lalu para warga belajar menjawab dengan perasaan tegang kemudian memilih hanya 4 bulan saja. Kemudian setiap tahun ia mengajar hanya dalam empat bulan saja diantaranya tiap bulan Pebruari, Maret, April, Mei, Juni dan Juli.

Mama yang postur tubuhnya kecil ini membeberkan bahwa metode yang saya biasa gunakan dalam mengajar adalah menggunakan pengenalan secara alfabetis/huruf, angka-angka dan mengejah antara huruf hidup dan huruf mati yang lazim disebut vocal dan konsonan. Siasat lain yang digunakan dalam proses mengajar adalah diajar dalam dua versi bahasa yakni bahasa Indonesia dan bahasa Mee (Ekari-red). Selanjutnya penulis bertanya secara spontan semenjak itu beliau mengutarakan bahwa dari tahun 1984 sampai tahun 2006 ia mengajar sebanyak 98 orang dan mereka semua sudah pintar membaca dan menulis serta menghitung. Ditargetkan bahwa dengan kemampuan baca, tulis,yang dimiliki para warga belajar diharapkan mampu membaca Alkitab.

Ia (Assa Kayame-red) dalam tahun ini akan diajar 10 warga belajar tanpa honor dari siapapun. “Harapan saya paling kuat bahwa diakhirat saya akan mendapat imbalan yang setimpal dari Allah yang mempunyai seluruh alam raya ini beserta manusia. Dalam pada penuturan terakhir ketua kaum ibu ini mengharapkan perhatian yang realistis dari Pemerintah Daerah Propinsi lebih khusus Pemerintah Daerah Kabupaten Paniai dalam hal ini Instansi terkait yakni Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Paniai oleh karena saya ajar ini membantu program pemerintah. Beliau bilang sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bahwa kedepan akan ada program pemerintah, ternyata hingga kini ada program pemerintah tentang pemberantasan buta huruf, jadi saya harap sekali lagi perlu sekali ada perhatian yang seriuas dari pemerintah terutama DPRD dan Dinas P dan P Kabupaten Paniai !!! (Tiborius Adii-Penulis adalah Pemerhati Pendidikan Non-formal di daerah dan Alumnus Program Pendidikan Non-Formal FKIP/UNCEN ABEPURA-JAYAPURA- PAPUA)

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com