God Bless You All and Me

27 March 2011

Dilanda Banjir, Warga Ekadide dan Agadide Mengungsi

Curah hujan yang cukup tinggi sejak pekan lalu membawa “hujan bencana” bagi masyarakat Distrik Agadide dan Distrik Ekadide, Kabupaten Paniai. Warga yang selama ini hidup di sekitar Kali Aga dan Eka ketiban bencana banjir dan pasang air danau. Akibatnya, rumah dan lahan serta lokasi ternak hanyut tersapu air.

Semua kali kecil yang ada di kawasan itu meluap bermuara di dua sungai besar, Eka dan Aga. Praktis, dataran rendah di lembah Agaapo dan Ekapo meluap. Akibat luapan sungai dan pasang air danau itu, semua kampung yang tersebar di dua distrik itu digenangi banjir setinggi kurang lebih dua meter.

Data yang dihimpun Papuapos Nabire, hingga kini tidak ada korban meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara kondisi kesehatan sebagian sangat memprihatinkan, ada yang sakit batuk, diare dan lain-lain.

Pemerintah Distrik Agadide dan Ekadide dalam laporannya melalui staf, bahwa warga tidak mengalami kecelakaan fatal karena ketika air perlahan naik semua telah mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sebagian memilih tinggal di rumah kerabatnya, sebagian lagi ditampung di Balai Kampung dan Kantor Distrik.

Kerugian yang diderita akibat meluapnya Sungai Aga dan Eka serta pasang air Danau Paniai setinggi dua meter tersebut, ratusan ternak dan tanaman pertanian milik warga setempat.

Berdasarkan hasil monitoring tim Yayasan Pembangunan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Paniai, bencana ini sangat dirasakan oleh masyarakat Kampung Obaipugaida, Geida dan Agaapo, Distrik Ekadide. Masyarakat yang berdomisili di sekitar kedua kali seperti Distrik Agadide dan beberapa kampung lainnya di Distrik Ekadide tidak luput dari bencana tersebut. Tanaman dan ternak terhanyut akibat derasnya air dari kedua sungai.

Warga yang rumahnya tidak layak dihuni telah mengungsi ke daerah yang agak tinggi. Seperti di Kampung Obaipugaida, semua warga telah meninggalkan rumah mereka.

Barnabas Degei (39), salah satu warga Kampung Obaipugai Distrik Ekadide yang rumahnya tenggelam oleh banjir dan genangan air danau, menuturkan, keluarganya mengungsi ke daerah yang aman ketika bencana terjadi.

“Pas air sudah mulai naik, kami langsung cari jalan untuk selamatkan anggota keluarga ke tempat yang lebih aman,” tuturnya, Senin (21/3) kemarin.

Keluarga Barnabas Degei terdiri dari istri dan empat anak. Satu laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Istrinya baru melahirkan tiga bulan yang lalu. Saat kejadian, kondisi istri tidak kuat. “Ibu tidak kuat, tapi terpaksa kami harus mengungsi,” kata Barnabas.

Sementara itu, bayi yang baru dilahirkan saat ini sedang sakit. Ia perlu mendapat pertolongan medis.



Lahan Pertanian Terendam

Masyarakat Ekadide pada umumnya hidup dengan mengandalkan potensi pertanian di wilayahnya. Sejak dua minggu yang lalu, air danau mulai naik dan sedikit demi sedikit telah menelan hampir semua lahan pertanian yang ditanami petatas dan keladi sebagai bahan makanan pokok warga setempat. Sayur bayam, boncis dan kol di lahan garapan juga telah terendam air.

Lahan yang tenggelam akibat bencana, menurut Fabianus Degei, Kepala Kampung Obaipugaida, diperkirakan berjumlah 4000 lebih lahan. Itu berarti, hampir semua lahan tak tersisa disapu air banjir. “Sekarang tidak ada ketersediaan makanan, sehingga warga sedang kelaparan,” kata Fabianus.

Dituturkan, kelaparan yang dialami cukup parah. Meski beberapa hari lalu mereka dibantu oleh keluarga dekat di sekitar dan membeli beras dengan harga Rp 10.000/kg di kios yang terletak di ibu kota Distrik Ekadide, namun itupun telah habis dipakai. “Tidak ada cadangan makanan. Uang juga sudah habis terpakai untuk beli beras dan bahan makanan di kios,” imbuhnya.

Menurut Fabianus, karena ketersediaan makanan dan uang mereka habis, maka sejak dari dua hari lalu kelaparan mulai dirasakan warga yang sedang mengungsi.



Sektor Peternakan Hancur

Tempat masyarakat setempat biasa pelihara ternak juga tak luput dari amukan bencana. Akibatnya, lokasi untuk ternak telah dipenuhi air.

Habel Degei (32), tokoh pemuda Distrik Ekadide, menyebutkan korban ternak ayam diperkirakan sekitar 1230 dan ternak babi sekitar 700 ekor, ternak kelinci hampir mencapai 300 ekor.

“Jumlah ini masih belum terhitung yang dari Kampung Agaapo dan kampung-kampung di wilayah Distrik Agadide,” kata Habel.



Kondisi Kesehatan Memprihatinkan

Hasil monitoring di lapangan, warga yang mengalami korban bencana sampai sekarang jarang keluar dari rumah. Jika mau keluar, harus ada perahu. Buang kotoran juga tidak jauh dari kawasan perumahan rakyat.

“Kondisi kesehatan masyarakat di daerah itu sangat memprihatinkan,” ujar Direktur Yapkema, Hanok Herison Pigai, kemarin.

Hal itu tampak dari pola makan yang tidak sehat, mengkonsumsi air kotor yang langsung diambil dari tempat mereka tinggal. Air yang diminum berwarna, tampak kabur, kotor karena diduga telah tercampur dengan kotoran manusia dan kotoran ternak air, sehingga kemungkinan terkontaminasi dengan kuman bakteri mematikan.

“Warga yang terkena bencana ini sedang mengalami banyak masalah mulai dari kesehatan keluarga, penyediaan makanan yang tidak tercukupi, tidak ada pasokan air bersih, sehingga mereka harus mengkonsumsi air di sekitarnya yang tidak sehat, padahal disitu mereka juga membuang kotoran,” tutur Pigai.

Saat ini warga Agadide dan Ekadide sangat membutuhkan bahan makanan dan medis. Sementara itu, hingga memasuki pekan kedua pasca bencana, belum ada bantuan kemanusiaan.

“Kiranya ada perhatian dari berbagai pihak untuk menanggulangi bencana banjir ini,” ucap Hanok.



Anak-Anak Tidak Sekolah

Diperkirakan sekitar 2000 anak di Distrik Ekadide tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Sejak kejadian, mereka terjebak karena bencana banjir. Terpaksa anak-anak memilih menjadi pekerja ulet membantu anggota keluarganya mengungsi ke tempat aman.

Meski melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, bocah-bocah itu mau tidak mau membantu keluarga di tengah bencana. Mereka mengemudikan speedboat dan perahu untuk menjemput dan mengantar mama-mama mencari nota (makanan) di Komopa dan keluarga dekatnya yang berdomisili di wilayah dataran tinggi. Juga membeli beras di ibukota Distrik Ekadide.

Kesehatan anak-anak tersebut sangat rentan. Mereka tak mengenal lelah. Seharian dihabiskan untuk mengantar orang tua dan masyarakat yang ingin keluar dari rumah dengan menggunakan transportasi danau. (jga-you/ppn)

0 komentar:

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com