God Bless You All and Me

01 March 2010

Septinus Tipagau: Freeport Segera Jelaskan Status Operasi di Intan Jaya

Yogyakarta--Intelektual Intan Jaya, Septinus Tipagai, SIP meminta segera kepada PT Freeport Indonesia untuk menjelaskan status operasinya. Dia menilai PT Freeport Indonesia telah lama memasuki wilayah adat suku Moni tetapi tidak pernah menjelaskan atau mengkoordinasi dengan masyarakat pemilik hak ulayat.

“PT Mine Service Internasional dan PT Mining Minerals adalah anak perusahaan Freeport Indonesia yang sudah lama beroperasi di wilayah adat orang Moni di Kabupaten Intan Jaya, Papua tetapi tidak pernah memberi penjelasan. Maka kami minta untuk segera melakukan pembicaraan dengan masyarakat pemilik hak ulayat,” kata alumnus Universitas Dirgantara Indonesia, Jurusan Hubungan Internasional.

Katanya, masyarakat adat Papua mempunyai pengalaman yang buruk dengan perusahaan. Perusahaan apa pun yang masuk di tanah Papua tidak pernah menghargai hak-hak adat. Ketika masyarakat meminta hak-hak mereka justru dihadapkan dengan pihak keamanan. Tidak pernah melaksanaan pembicaraan yang baik dengan pemilik hak ulayat dalam bentuk kontrak-kontrak kerja yang jelas.

“Sudah lama Freeport masuk di wilayah suku Moni yang memiliki populasi penduduk + 75.000 jiwa. Wilayah adat Moni sebelah timur berbatasan dengan Puncak Papua dan Puncak Jaya (gunung mbulu-mbulu), sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Paniai (bayabiru), sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Waropen (ular merah) dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Mimika/Timika (– 50 & Grasberg). Jadi, wilayah Moni ini berada di jantung Papua dan memiliki potensi kekayaan alam yang banyak dan masih utuh. Maka, perusahaan apa pun yang akan masuk dan yang sudah beroperasi harus melakukan pembicaraan dengan masyarakat. Jika tidak masyarakat akan melawan dengan berbagai macam cara,” kata mahasiswa Magister Administrasi Publik Universitas Gajah Mada ini.

Dia juga menilai PT Freeport Indonesia selama ini menghancurkan tatanan kehidupan orang Papua. Alamnya dia rusak, manusianya dibunuh melalui aparat keamanan yang menjaga perusahaan. Alam yang rusak (air) justru menambah penderitaan yang bentuk konkretnya adalah kematian ibu dan anak. Dia juga tidak pernah perhatikan soal pendidikan dengan baik.

“Saya minta Freeport harus memberikan jaminan hak hidup orang Moni sebelum beroperasi lebih jauh,” katanya. Tipagau mengatakan, perusahaan yang masuk jangan hanya koordinasi dengan pemerintah Kabupaten Intan Jaya tetapi harus melibatkan masyarakat. “Pemerintah ada karena ada rakyat, maka hal-hal yang menyangkut kepentingan rakyat harus bicara dengan masyarakat,” katanya.

Katanya, berbagai investasi di Papua, khususnya di wilayah Moni harus mengacu pada Undang-Undang No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Pada pasal 43 ayat 1 dan 5 mengatakan bahwa pemerintah provinsi wajib mengakui dan menghormati, melindungi, memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat adat. Dan, memberikan mediasi aktif dalam usaha penyelesaian sengketa tanah ulayat dan bekas hak perorangan secara adil dan bijaksana, sehingga dapat dicapai kesepakatan yang memuaskan para pihak yang bersangkutan.

Maka itu ia meminta PT Freeport Indonesia (PT. Mine Service Internasional, PT Mining Minerals) harus membuat perjanjian hitam di atas putih isinya menyatakan bahwa perusahaan siap membangun jalan infrastruktur dari Paniai/Bayabiru ke Intan Jaya, dari Waropen ke Intan Jaya dan dari Puncak Papua ke Intan Jaya; perusahaan harus mendukung dalam usaha-usaha kecil (mikro) pribumi; perusahaan siap menjamin keamanan, bukan pelanggaran, kekerasan, dipukul dan lain-lain; perusahaan harus membangun listrik; perusahaan harus membangun perumahan warga; perusahaan harus membangun, mengembangkan dan memberdayakan SDM; memberikan jaminan bahwa rakyat tidak akan pernah dihadapkan dengan aparat keamanan dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun.....Semoga (Jemmy Gerson Adii-Yermias Degey/Wikimu.com)


0 komentar:

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com