God Bless You All and Me

06 July 2009

Saatnya : Tolak Miras, Portitusi (PSK), Narkoba, Judi & KKN. di Kabupaten baru “Intan Jaya”

Sekarang banyak orang sedang membuka mata, telinga dan hati serta perhatihan penuh pada Kabupaten Intan Jaya, yang saat ini terletak tepat di jantung kota Distrik Sugapa. Mengapa di awal tulisan ini saya paparkan demikian, karena tentunya yang namanya Intan Jaya adalah barang baru alias Daerah Baru, yang di atas Kabupaten itu tertidur kekayaaan alam yang sangat melimpah ruah, mulai dari Emas, Hutan, Binatang serta tanah yang subur dengan di tumbuhi segala jenis tanaman pangan.

Rasa-rasanya walaupun sudah setahun saya tinggal di daerah ini, tetapi rupanya baru sebulan yang pas saya menetap di daerah yang baru di tetapkan Pemerintah Pusat (Pempus-red) menjadi Kabupaten Intan Jaya ini. Perlu diketahui bahwa masyarakat setempat di sini (Moni, Nduga & Dani-red) kala itu menyepakati bahwa ketika daerah ini di mekarkan, maka namanya adalah “Intan Jaya”. Apa yang di sepakati masyarakat akhirnya tercapai sudah, dimana akhir tahun 2008 Pempus mengeluarkan RUU (rancangan undang-udang) tentang pembentukan kabupaten baru di Kabupaten Induk Paniai yakni Deiya dan Intan Jaya. Selang beberapa bulan kemudian atau tepatnya pada hari Selasa, 26 Mei 2009, Menteri Dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia telah melantik Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau dan Penjabat Bupati Deiyai, Drs. Blasius Pakage di Aula Sasana Bhakti Praja Departemen Dalam Negeri di Jakarta. Selanjutnya, ke dua Penjabat Bupati tersebut diantar secara terpisah pada hari yang berbeda oleh Bupati Induk Paniai, Naftali Yogi. Penjabat Bupati Deiyai diantar pada Kamis (11/6-09) ke Waghete Ibu Kota Kabupaten dan Penjabat Bupati Intan Jaya diantar pada Sabtu (13/6-09) di Sugapa, sebagai letak Ibu Kota Kabupaten.

Menurut saya, arti dari nama itu telah menjadi satu rahasia tersendiri bagi masyarakat setempat di Negeri ini, karena yang pastinya Intan merupakan sebuah kata indah dari kekayaan yang masih sampai dengan saat ini terpendam di dalam tanah yang sebagaimana di sebut orang Papua pada umumnya yakni sebagai “MAMA”.

Sudah barang tentu, ketika mata, telinga, hati dan perhatian mulai di manfaatkan tidak lain dan tidak bukan adalah hanya untuk akan melihat, mendengar, merasakan dan menunjukan pada hal-hal yang baru pula. Misalnya saja, Kabupaten Intan Jaya saat ini, yang sebagaimana merupakan daerah pemekaran baru dari Kabupaten Induk Paniai, yang telah di mekarkan pada beberapa bulan lalu, dan kabupaten ini sudah memiliki seorang pemimpin yang akan merintis daerah ini dengan satu pondasi yang kuat, sehingga kelak tidak lagi rubuh atau rusak ketika di saat badai atau tantangan datang silih berganti.

Artinya siapapun dia, baik orang asli Moni, orang Papua bahkan orang non Papua akan datang berbondong-bondong ke daerah ini, dengan berbagai kepentingan masing-masing. Terutama menyangkut investasi besar-besaran di daerah ini. Sebenarnya, adanya hal-hal itu sangat sekali di kehendaki oleh masyarakat setempat, karena sudah saatnya daerah inipun juga harus secara pesat berubah dari Keterpurukan, Ketertinggalan, Keterpinggirkan, Keburukan, Kemiskinan, Kebodohan dan bahkan hal-hal negative lainnya.

Tetapi jangan harap kalau saja ada orang, baik orang local Moni, orang Papua bahkan orang pendatang (non Papua), yang datang ke daerah ini dan melakukan investasinya seperti Perdagangan Minuman Keras (Miras), Perdagangan Pekerja Seks Komersial (PSK), Perdagangan Narkoba, Bisnis Judi atau Kupon Putih (Kupu) bahkan yang paling tidak diinginkan oleh masyarakat Moni di Intan Jaya yakni di lakukannya Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) oleh semua Pejabat. Beberapa poin-poin tersebut merupakan hal terpenting yang harus mulai di berantas dari sekarang, atau saat-saat daerah ini masih di bilang dalam tahap pondasi atau kata lainnya lagi masih berusia seumur jagung ini.

Hal demikianlah, secara terus terang saja melalui Web Blognya saya ini, saya mau sampaikan bahwa sudah, sedang dan akan terus saya kampanyekan kepada semua masyarakat disini bahkan terlebih Tokoh-Tokoh Intelektual, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Masyarakat, juga pimpinan-pimpinan pemerintah, baik Kepala Kampung, Kepala Distrik bahkan juga Penjabat Bupati, terkait dengan penolakan segala macam bisnis yang hanya dapat merugikan Tanah, Daerah, serta Masyarakat setempat dari virus-virus ini “Miras, PSK, Narkoba, Judi bahkan KKN”.

Ringkasan Singkat dari Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN
“MIRAS”. Perlu di ketahui bahwa ketika kelak hadirnya Miras di Negeri Intan Jaya ini akan berdampak pada Perkelahian, Pembunuhan, Pemerkosaan, Pencurian, Penganiayaan, Pembodohan, Malas, dan Tidak Kreatif, Apatis, Asosial. Itulah beberapa dampak-dampak negative yang akan terjadi kelak, apabila perdagangan Miras seperti (Brendi, Mension, Wiski, Bir, Anggur, Arak, Baram, Tuak, Topi Miring, Cap Tikus bahkan minuman-minuman lokal lainnya seperti Bobo, Saguer dan lain-lain) di izinkan atau di Perdakan oleh Pemerintah Daerah setempat.

Kalau di daerah yang sudah berusia tua, tentunya masalah Miras semakin sulit untuk diberantas karena banyak invisible hands yang menjalin mata rantai pemasaran dan pengamanannya. Pasalnya, hingga saat ini memang sering kita baca di Koran dan nonton di TV bahwa pemusnahan terhadap sejumlah Miras hasil sitaan pihak berwajib, namun tampaknya tidak menyurutkan peredaran Miras, malah semakin merajalela di mana-mana. Hal ini disebabkan karena yang dilakukan oleh aparat hanyalah menyita sebagian saja dari beberapa Toko tertentu yang tidak memiliki ijin dan penyelundupan Miras, tapi tidak memangkas mata rantainya dan menegakkan aturan yang berhubungan dengan Miras.

Sebenarnya peraturan hukum tentang Miras ini sudah cukup memadai dalam KUHP, misalnya pasal 536,538,539 semuanya telah mengatur tentang Miras, hanya saja menurut hemat saya perlu direvisi dan dipertegas lagi agar betul-betul mengenai sasarannya. Berdasarkan informasi dari salah seorang ahli hukum, keraguan menindak orang yang berhubungan dengan Miras ini, salah satunya adalah karena pasal-pasal yang mengatur tentang Miras itu masih rancu dan kurang jelas dan banyak tidak mengenai sasarannya. Sehingga itu sulit di berantas karena sudah tentunya daerah-daerah itu telah berusia tua, kebanding daerah Intan Jaya ini, yang mana saat ini masih belum bisa berjalan sehingga apa salahnya kalau pihak-pihak yang berkompoten di daerah ini mulai mempertegas kearah yang lebih baik.

“PSK”. Begitu juga jika kalau di daerah ini di izinkan Pemerintah Daerah untuk adanya perdagangan PSK, maka dampak negative kedepan yang akan terjadi di daerah ini adalah meningkatnya penyakit HIV-AIDS, karena sudah barang tentu bahwa setiap PSK yang datang 100 persen sesuai degan hemat saya adalah positif HIV-AIDS.

“Narkoba”. Masalah lainnya yakni masalah Narkoba, jika di izinkan lagi oleh pihak-pihak yang berkompoten maka yang akan menjadi sasaran utama dampak negative adalah anak-anak muda (pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa). Semua jenis Narkoba mempunyai efek yang sangat berbahaya bagi pemakainya, misalnya kematian langsung, kanker, ketergantungan terhadap obat-obat terlarang, pemalas, menjadi bodoh, tidak kreatif, pendiam, suka melawan, dan kurang nafsu makan. Begitu juga dampak penyalahgunaan Narkoba yakni “Merusak hubungan kekeluargaan; Menurunkan kemampuan belajar; Ketidak mampuan membedakan mana yang baik dan buruk; Perubahan perilaku menjadi asosial; Merosotnya produktivitas kerja; Dan gangguan kesehatan”.

Dengan demikian penyalah gunaan Narkoba mempunyai dampak yang sangat besar pada Tatanan social keluarga dan masyarakat sehingga dapat terjadi tindakkan criminal dan gangguan ketertiban dan keamanan. Pokoknya Narkoba adalah pembunuhan secara perlahan namun pasti terhadap semua pemakainannya atau dengan kata lain “Generation Cleansing“ atau pemusnahan generasi.

Mengapa ? Karena Narkoba merupakan jaringan bisnis yang besar dan global dengan memiliki satu tujuan politik mendasar, yaitu menghancurkan generasi yang akan datang dengan cara membodohkan mereka. Hal ini ada hubungannya dengan persaingan antar Negara-negara di dunia ini untuk muncul sebagai Negara adikuasa. Untuk tujuan itu, maka generasi muda beberapa Negara yang menjadi saingan tadi harus “dihancurkan” agar gampang dikuasai.

Pasalnya, ada banyak alasan mengapa orang mengkomsumsi Narkoba, diantaranya: “Karena gampang diperoleh (availability), ingin tahu dan mencoba (Curiosity and Experiment) mencari identitas diri (Self – Identity), akibat depresi (depression) perlawanan (rebellion) akibat rumah tangga yang berantakkan/orang tua super sibuk (lack of love and attention), agar dapat diterima dikalangan teman-teman sejawat (Accepted bypeer group) dan upaya untuk menghilangkan stress, kebosanan hidup dan rasa sakit (as a way of relaxor cope with stress, boredom and pain)”.

Ciri-ciri seseorang yang mengkomsumsi Narkoba dapat dilihat karena; “Rasa Gembira yang berlebihan meskipun tidak wajar. (Karena fungsi kendali otak menjadi lemah); Rasa harga diri meningkat sehingga pemakai merasa diri hebat namun semuanya semu belaka; Dan banyak bicara walaupun alur bicaranya sukar diikuti”.

Menurut berita-berita di surat khabar, sasaran Narkoba bukan saja anak-anak muda tapi juga orang dewasa dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pula pegawai negri dan polisi. Narkoba bukan saja beredar di kota-kota, tapi juga di desa-desa, termasuk “Intan Jaya”, hal itu jika saat ini tidak di kontrol baik oleh semua komponen yang berkompoten di Negeri ini. Pasalnya, sudah bukan rahasia umum bahwa Narkoba adalah sebuah bisnis yang besar dan global serta memiliki mata rantai yang sangat rapih dari berbagai unsur terkait mulai dari produsen, pengedar, konsumen, aparat hukum, aparat keamanan dan bahkan elit politik, itulah sebabnya Narkoba sulit diberantas hingga saat ini sekalipun Undang-Undang yang mengatur tentang hal itu sudah ada. Misalnya UU NO 5/1997 tentang Psikotropika dan UU no 22/1997 tentang Narkotika.

“Judi”. Masalah lainnya, yakni Judi. Dimana perkembangan Judi Kupu ini khususnya
di kota-kota besar, tumbuh bagaikan jamur dimusim hujan. Berdasarkan hasil update saya melalui salah satu LSM bahwa ekses yang kurang baik dari Kupu ini yaitu mulai dari system tertutup, sekarang sudah terbuka dapat disaksikan di mana-mana. Informasi utama yang ditanyakan oleh setiap pegawai saat pergi ke kantor adalah informasi tentang nomor Kupu yang berhubungan dengan ekor, puluhan, ratusan, dan ribuan. Kemudian apakah ekor dan puluhan tersebut ganjil atau genap. Disamping di utak-atik melalui rumus, ada yang mencoba menganalisis berbagai mimpi. Dampak negative yang lain, yaitu takkala tidak ada uang untuk membeli Kupu, utang pada temanpun jadi.

Yang lebih parah lagi, sering uang belanja, uang untuk beli susu, uang untuk koperasi, uang untuk Harisan, harus di korbankan untuk membeli Kupu ini. Pernah suatu hari ditempat orang mati, seseorang harus segera pulang dengan alasan takut terlambat memasang buntut. Memang sulit untuk menyimpulkan apakah Judi Kupu ini lebih banyak merugikan atau bahkan menguntungkan bagi para pecandunya karena hingga saat ini belum pernah ada penelitian mendalam tentang hal itu. Yang sering terjadi adalah perkelahian antara Sub Bandar dengan pemenangnya, karena tidak bisa membayar semua kemenangannya. Kehancuran rumah tangga atau pencurian terhadap Kupu ini masih belum terdengar.

Penindakkan terhadap pecandu Kupu masih belum ada, kecuali pada bandarnya, namun dilepas kembali mungkin karena pasal dan ayat KUHP yang khusus menyebut tentang hal itu belum ada. Sebenarnya beberapa pasal dan ayat dalam KUHP sudah ada menyinggung tentang Judi, namun tampaknya masih lemah dan kabur, sehingga perlu direvisi dan dipertegas lagi tentang jenis-jenis Judi yang dilarang dan bentuk tindakkan dan hukumannya.

“KKN”. Masalah terakhir yakni tentang KKN. Perlu kita ketahui bahwa, jika di daerah ini (Intan Jaya) di awal-awal perintisan bermula dengan KKN, maka apa yang di cita-citakan oleh masyarakat Moni, seperti adanya perubahaan pembangunan di daerah ini yang saat ini masih di bilang sangat jauh dari daerah-daerah lain misalnya, Keterpurukan, Ketertinggalan, Keterpinggirkan, Keburukan, Kemiskinan, Kebodohan dan bahkan hal-hal negative lainnya, tidak akan tercapai.

Kesimpulan
Secara umum dapat disimpulkan bahwa Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN adalah salah satu perbuatan yang melanggar hukum dan membawa dampak negative yang sangat besar dibanding positifnya. Apalagi bila dilihat dari sisi agama, lebih banyak masalah dari pada manfaatnya, dan semua agama dengan tegas melarang umatnya untuk mengkonsumsi Miras, Narkoba, Jajan Seks sembarangan, bermain Judi bahkan melakukan KKN.

Oleh sebab itu, saat ini adalah saat yang tepat untuk meningkatkan upaya penanggulangannya agar berbagai dampak negative dari Miras, PSK, Narkoba, Judi dan KKN tidak dapat terjadi di daerah Intan Jaya yang di kenal dengan melimpahnya kekayaan alam ini. Melalui kebersamaan dari semua komponen yang berkompoten, misalnya Pemda Kabupaten Intan Jaya, Perusahaan (Investor-Investor), Tokoh Masyarakat, Tokoh Adat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda, Tokoh Perempuan, LSM-LSM, dan lain sebagainya di awal-awal pelaksanaan kegiatan pembangunannya, dan tidak perlu lagi ada izin melalui PERDA dan lain-lainnya......Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

Sekilas Aktivitas Penjabat Bupati & Kesenjangan-Kesenjangan di Intan Jaya

Di awal kepemimpinan Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau di Sugapa, ketika tiba di Sugapa bersama-sama dengan Bupati Induk Paniai, Naftali Yogi, Sabtu (13-06-2009) beberapa waktu lalu, yakni melakukan kunjungan ke beberapa lokasi, diantaranya mengcroscek Jalan Utama yang menghubungkan antara Sugapa-Homeo-Paniai, mencroscek Lapangan Terbang (Lapter) Sugapa Intan Jaya, serta memantau dari dekat lokasi-lokasi yang sebagaimana akan di lakukannya Pembangunan Kantor-Kantor Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), Kantor Bupati dan Kantor DPRD.

Dalam kesempatan itu, keberadaan Bupati di Sugapa-Intan Jaya ini hanya 3 hari saja, yakni Sabtu (13/6-09), Minggu (14/6-09) dan Senin (15/6-09) sedangkan pada Selasa (16/6-09) Bupati Intan Jaya harus melakukan Perjalanan Dinas Perdana ke Kabupaten Induk Paniai, dalam rangkah koordinasi dengan Bupati Induk Paniai, terkait dengan proses pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunannya kedepan di Intan Jaya ini.

Beberapa poin inti yang akan di lakukan oleh Penjabat Bupati Intan Jaya saat ini dan hingga sampai pada beberapa bulan kedepan atau tahun 2010, yakni; (1). Penyiapan perangkat kerja organisasi pemerintah daerah (pemda-red) atau yang lazimnya di sebut Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan membantunya dalam pemerintahaan di awal masa perintisan ini, karena tanpa adanya SKPD maka sulitnya menunjang birokrasi pemerintahan di daerah ini; (2). Membentuk anggota Legislative serta membangun Kantor Legislative (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-DPRD Kabupaten Intan Jaya-red); (3). Menetapkan “MORATORIUM” dengan kata lain menertibkan keamanan, menyiapkan aparat pemerintahaan dan menciptakan situasi yang aman dan tentram, serta menciptakan kebersamaan, kekompakan dan kerja sama dari semua pihak-pihak yang berkompoten di daerah Intan Jaya ini.

Sesuai kaca mata saya, pada kunjungan Bupati Paniai, Naftali Yogi dan rombongannya saat mengantarkan Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau serta meresmikan Kantor Bupati Intan Jaya sementara di Sugapa, berjalan aman-aman terkendali, itu semua berkat kerja keras dari pihak TRIPIKA dalam arti Pemerintah Distrik hingga pemerintah kampung dan pihak Kepolisian serta TNI, lebih focus pada menjaga kestabilan situasi dan keamanan saat kedatangan Bupati Paniai dan rombongannya.

Perekonomian
Perekonomian masyarakat moni di Sugapa pada khususnya dan di Intan Jaya pada umumnya, kian waktu semakin lancar-lancar saja dalam hal proses jual beli hasil pangan lokal setempat. Pasalanya, sebelum dan sesudah hadirnya Kabupaten Intan Jaya di daerah Moni ini, aktivitas perekonomian masyarakat khususnya di pasar sentral Desa Yokatapa ini, berjalan aman dan tertib kian waktu. Dimana proses jual beli di pasar tersebut, di lakukan empat (4) kali dalam seminggu, yakni; Senin Sore (yang di sebut masyarakat setempat sebagai pasar sore-red), Selasa Pagi, Kamis Sore dan Jumat Pagi.

Berbagai macam hasil kebun dari hasil kerja keras “Mama-Mama” setempat di pasarkan pada hari-hari tersebut seperti sebagaimana yang di sebutkan diatas. Hasil kebun yang di pasarkan, berdasarkan pantauan saya di lapangan (Pasar Sentral Yokatapa) diantaranya : Ubi Manis (Petatas), Keladi, BĂȘte, Kasbi, Sayur-Sayuran, Buah-Buahan (Markisa, Jeruk Manis, Jambu, Geyawas, Buah Terong, Mangga, Alpokat dan lain-lain-red) serta beberapa hasil kebun lainnya, pokoknya segala jenis tanaman hasil perkebunan masyarakat moni di jual di pasar Yokatapa tersebut.

Masyarakat yang setiap 4 kali dalam seminggu itu memasarkan hasil kebun mereka di pasar sentral Yokatapa selain dari masyarakat moni yang tinggal di Desa Bilogai dan Desa Yokatapa, ada juga masyarakat yang datang dari beberapa desa-desa lainnya, diantaranya seperti Desa Bilai (Homeo), Pogapa (Homeo), Desa Puyagia, Desa Jalae, Desa Bamogo, Desa Pusiga, Desa Joparu, Desa Mamba, Desa Eknemba, Desa Titigi, Desa Suanggama bahkan masyarakat dari Distrik Hitadipa dan Distrik Agisiga.

Kesehatan
Masalah kesehatan di Bilogai-Sugapa Intan Jaya juga menjadi satu persoalan utama, yang perlu diatasi oleh berbagai pihak, baik Perusahaan, Pemerintah bahkan Swasta. Pasalnya, setiap masyarakat, pemerintah bahkan crew perusahaan ketika sakit, yang menjadi kendala adalah stok obat bahkan Tenaga Medis (Dokter) tidak memadai. Misalnya saja, seperti di Camp Bilogai dimana stok obat yang ada tidak mampu untuk mengatasi berbagai penyakit yang di alami oleh semua crew ketika sakit, hal itu bisa saja terjadi tidak lain dan tidak bukan di sebabkan karena stok obat-obatan yang di berikan oleh medik ISOS hanya lebih prioritas pada obat-obat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Apa yang di alami oleh crew, juga sama halnya di alami oleh masyarakat Moni di Sugapa Intan Jaya, dimana setiap sakit sangat sulit sekali untuk berobat di PUSKESMAS Sugapa, hal yang menjadi kendala diantaranya tidak ada dokter bahkan obat-obatan yang di kirim ke PUSKESMAS Sugapa dari Dinas Kesehatan Paniai terbatas.

Syukur-syukur ada salah satu Klinik dari swasta atau dari Pastoran Keuskupan Timika di Bilogai, yang boleh dikatakan hanya 75 persen dapat mengatasi pasien baik dari masyarakat bahkan crew perusahaan dengan obat-obatan yang dimilikinya, namun jika memang sakitnya tidak mampu di sembuhkan di Klinik Pastoran Bilogai tersebut, salah alternative lainnya yang bisa dilakukan, yakni pasien itu musti harus di rujuk ke Rumah Sakit Paniai, Timika atau Nabire dengan menggunakan transportasi udara, yang tentunya juga mengeluarkan biaya yang sangat besar.

Hal inilah yang menjadi tolak ukur antara semua pihak, untuk tetap mengedepankan rasa kekeluargaan baik antara pihak swasta yang menangani Klinik itu, dengan masyarakat bahkan dengan crew perusahaan.

Dengan demikian, maka ketika crew atau bahkan masyarakat sakit, tentunya dapat berobat di Klinik Pastoran Bilogai tersebut. Semoga kedepan bisa dapat di atasi bersama baik dari pihak Perusahaan, Pemerintah bahkan pihak Swasta dalam hal pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat di Sugapa Intan Jaya ini.

Pendidikan
PERSOALAN yang dialami Masyarakat di Distrik Sugapa memang cukup beragam. Bukan hanya kendala Kesehatan, Infrastruktur yang menghambat segala aktivitas Masyarakat di Wilayah Sugapa Kabupaten Intan Jaya. Faktor prinsipil lain yang melilit Masyarakat suku Moni di Sugapa Umumnya adalah Masalah pendidikan. Boleh dikatakan, pendidikan Karena Umumnya Wilayah Moni 6 Distrik masih terbelakang. Keterbelakangan ini terlihat dari kondisi SD-SD Inpres yang ada di Distrik Sugapa yang serba kekurangan. Bukan fasilitas saja Melainkan Tenaga Pengajar, Fasilitas yang tidak layak dipakai, karena gedung sebagian roboh, siswa juga tidak datang karena guru tidak datang mengajar , tenaga guru tidak ada, Jumlah Guru hanya pas-pas yang bertugas.

Menurut saya, sebaiknya langkah utama yang perlu di proritaskan oleh pihak Pemkab Intan Jaya yakni adanya penambahan guru. Walaupun hingga kini masih kekurangan, tetapi sesuai pantauan saya di lapangan, pengabdian guru disini (Intan Jaya-red) tidak pernah surut. Bahkan dari tahun ke tahun mereka dengan penuh tabah menjalaninya. Selama pengabdian itu, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi para siswa yang haus akan ilmu, biar pun dengan segala kekurangan yang ada. Semuanya itu, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa negeri Intan Jaya ini. Jika dilihat dari minat dan semangat Masyarakat Moni di Intan Jaya ini untuk menuntut ilmu, sebenarnya sangat tinggi.

Infrastruktur
Salah satu akses yang bisa di tempuh di daerah Intan Jaya saat ini, adalah pesawat Udara. Dengan demikian, hingga kini dari semua aspek infrastruktur di daerah ini sangat di bilang tertinggal jauh, kebanding dengan daerah-daerah lainnya. Harapan dari saya, kiranya dengan hadirnya Kabupaten Intan Jaya, dan bahkan pemimpin-pemimpin pejabat birokrasi di negeri ini, akan secara bertahap mengedepankan pembangunan, lebih khusus pada infrastruktur, sehingga kedepan daerah ini secara perlahan-lahan juga akan maju dengan pesat, sama seperti yang di alami oleh daerah-daerah lainnya.

Di akhir dari tulisan saya, kiranya, semua pembaca yang sempat mampir di Web Blognya saya, dan membaca tulisan ini, kiranya dapat bermanfaat, dan bisa bersama-sama memberikan inspirasi, demi perubahaan tong pu daerah Intan Jaya ini p;ada khususnya dan umumnya tong pu Tanah Papua ini, dari ketertinggalan, keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, keterpinggirkan, kemalasan dan factor-faktor negative lainnya……Semoga…!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

Bupati Paniai, Naftali Yogi dan Rombongannya Antarkan Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau

& Bupati Paniai Meresmikan Kantor Bupati Intan Jaya sementara di Sugapa

Dengan suasana yang aman-aman dan terkendali tanpa adanya gangguan atau aksi protes dari masyarakat setempat (Moni, Nduga dan Dani-red), terkait dengan pimpinan Penjabat Bupati Intan Jaya yakni, Maximus Zonggonau yang di lantik oleh Pemerintah Pusat (PEMPUS) pada pertengahan bulan Mei 2009 lalu di Jakarta, dimana saat di antar oleh Bupati Paniai, Naftali Yogi beserta rombongangannya melalui transportasi udara dari Enarotali-Sugapa melalui pesawat AviaStar sejenis Twin Other, mulus landing di lapangan terbang (lapter-red) Bilogai, Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya, pada Sabtu (13-06-2009) tanpa ada Insiden apapun dari masyarakat setempat. Pasalnya, masyarakat malah mendukung dan senang kalau saja pemimpin mereka yang akan merintis awal daerah Moni ini adalah putra daerah Moni sendiri, dari Distrik Bibida Kabupaten Paniai.

Sebelumnya, masyarakat Moni, Nduga, Dani serta Papua non Moni dan Suku Nusantara terlihat memadati Lapter Bilogai. Seperti kebiasaan masyarakat setempat bahwa jika di daerahnya di datangi para Tamu, musti para Tamu tersebut itu mau atau tidak mau, senang atau tidak senang, suka atau tidak suka telah menjadi tradisi di Negeri ini untuk harus di jemput dengan Tari-Tarian Khas Budaya Suku Moni (salah satu suku yang mendiami dataran tinggi di pegunungan Papua-red).

Untuk kali ini dalam kedatangan Bupati Paniai, Naftali Yogi dan rombongannya di sambut secara meriah oleh pemerintah local (TRIPIKA) dan masyarakat local setempat serta juga di saksikan oleh GovRell & ComRell Team Bilogai.

Setelah pesawat AviaStar melakukan landing di Lapter Bilogai, Distrik Sugapa Kabupaten Intan Jaya, rombongan Bupati pun satu demi satu turun dari pesawat, yang awalnya dimulai dari Bupati Paniai, Naftali Yogi kemudian disusul Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau, Sekda Kabupaten Induk Paniai, Asisten I Bidang Pemerintahaan Kabupaten Paniai, David Setiawan, Ketua DPRD Paniai (yang di wakili oleh Wakil Ketua DPRD Paniai-red), Kapolres Paniai, Dandim Paniai dan pejabat teras Pemkab Induk Paniai lainnya serta salah seorang rekan wartawan (PERS-Media Elektronik) Metro TV, Rein Windesi.

Usai turun dari pesawat AviaStar, masih di landasan Lapter Bilogai, Bupati Paniai dan Penjabat Bupati Intan Jaya, langsung di pakaikan topi khas moni dari bulu Burung Cenderawasih, sementara tamu lainnya (mulai dari Sekda Paniai hingga pejabat lainnya) di berikan Kalung Khas Budaya Suku Moni yang di buat dari Manik-Manik, Nelon (Tali), Anggrek dan mata kalungnya dari Kulit Bia dan Tulang atau Taring Babi.

Usai itu, Bupati Paniai, Penjabat Bupati Intan Jaya beserta rombongannya serta lebih kurang 1000-an masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan Suku Nusantara berarak-arakan menuju lokasi acara. Sebagaimana lokasi acara serimonial tersebut di pusatkan di Depan Kantor Distrik Sugapa (sekarang kantor itu di pakai sebagai Kantor Bupati Intan Jaya sementara-red), atau tepatnya di lapangan bola kaki Desa Yokatapa.

Untuk di ketahui bahwa, sebelumnya atau tepatnya, pada Kamis (11/06-2009) Bupati Paniai, Naftali Yogi dan pejabat teras Pemkab Paniai, Muspida, Muspida Plus, Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau, GovRell PT. MSI, M. Nasir serta rombongannya mengantarkan Penjabat Bupati Deiyai, Drs. Blasius Pakage ke Waghete Kabupaten Deiyai.

Ada beberapa tulisan yang di paparkan oleh masyarakat moni dan pemerintah local dalam spanduk, diantaranya: “Selamat Datang Bupati Paniai, Penjabat Bupati Intan Jaya, dan Penjabat Bupati Deiyai beserta Rombongannya di Kabupaten Intan Jaya”. dan “Selamat Datang Bupati Intan Jaya, Rakyatmu Menunggu Dengan Penuh Harapan”. Dan Tema Umum yang di pajang di podium tempat acara berlangsung, yakni, “Bersyukur Bagi-Mu Tuhan, Sebab Menurut Kehendak-Mu Telah Lahir Kabupaten Intan Jaya Bagiku”.

Di tempat acara itulah, di lakukan kegiatan serimonial, namun sebelum acara serimonial, panitia bahkan kedua Bupati serta Pejabat Teras lainnya mengijinkan untuk masyarakat yang hadir dari 6 Distrik, diantaranya Distrik Sugapa, Distrik Homeo, Distrik Wandae, Distrik Hitadipa, Distrik Agisiga dan Distrik Biandoga melakukan “WAITAI”, atau dengan bahasa kren Indonesia yakni melakukan tari-tarian khas Pegunungan Tengah (PETENG) dengan santunan lagu daerah setempat, sekitar setengah jam, yang di mulai dari Distrik Wandae, Homeo dan Biandoga, dan pada bagian kedua gilirannya, masyarakat Distrik Sugapa, Hitadipa dan Agisiga.

Sambutan Penjabat Bupati Intan Jaya, Bupati Induk Paniai dan Perwakilan Masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan Suku Nusantara
Selang beberapa menit kemudian usai kegiatan Waitai, acara serimonial pun di mulai, di buka dengan Doa pembukaan yang di bawakan oleh Bapak Pdt. Bernadus Miagoni. Acara selanjutnya di lanjutkan dengan penyampaian satu dua kata dari Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau dan Bupati Induk Paniai, Naftali Yogi serta penyampaian Ucapan Terima Kasih, Saran dan Kritikan dari perwakilan Masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan Suku Nusantara oleh, Kepala Desa Yokatapa, Hubertus Sondegau. Selanjutnya Bupati Induk Paniai, Naftali Yogi melakukan peresmian Kantor Bupati Intan Jaya sementara dengan pengguntingan pita kain selubung papan nama. Berfoto bersama Bupati Paniai, Penjabat Bupati Intan Jaya dengan semua komponen yang berkomponen, dan di akhiri dengan resepsi bersama.

Ringkasan Sambutan
Dalam pesan singkatnya, Max (nama sapaannya-red) dari Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau mengungkapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya terutama kepada masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan Suku Nusantara serta Pemerintah Local dari 6 Distrik yakni, Sugapa, Hitadipa, Agisiga, Homeo, Wandae dan Biandoga karena telah menerimanya dengan hati yang terbuka, dan tidak melakukan eksiden bahkan hal-hal negative lainnya dalam penjemputannya bersama Bupati Paniai dan rombongannya pada hari ini (Sabtu, 13 Juni 2009-red).

Dikatakannya lebih lanjut, bahwa mengingat waktu yang sangat terbatas maka, beberapa poin inti yang akan di lakukan di bawah kepemimpinannya saat ini hingga sampai beberapa bulan kedepan, diantaranya; (1). Penyiapan perangkat kerja organisasi pemerintah daerah (pemda-red) atau yang lazimnya di sebut Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang akan membantunya dalam pemerintahaan di awal masa perintisan ini, karena tanpa adanya SKPD maka sulitnya menunjang birokrasi pemerintahan di daerah ini; (2). Membentuk anggota Legislative serta membangun Kantor Legislative (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-DPRD Kabupaten Intan Jaya-red); (3). Menetapkan “MORATORIUM” dengan kata lain menertibkan keamanan, menyiapkan aparat pemerintahaan dan menciptakan situasi yang aman dan tentram, serta menciptakan kebersamaan, kekompakan dan kerja sama dari semua pihak-pihak yang berkompoten di daerah Intan Jaya ini.

Setelah itu, panitia juga memberikan kesempatan kepada Bupati Paniai, Naftali Yogi untuk menyampaikan satu bahkan dua kata. Dalam arahannya, Bupati Paniai, Naftali Yogi menyampaikan rasa bangga dan senang atas sambutan hangat dari Masyarakat Local setempat dan Pemerintah Local dari 6 Distrik dengan berupa tari-tarian khas Pegunungan Tengah lengkap dengan pakaian adat Suku Moni, Nduga dan Dani.

Dikatakannya, rasa beban itu di pikul, ketika sewaktu dirinya menjabat sebagai Wakil Bupati Paniai (saat itu Bupati Paniainya yakni, Yanuarius Douw) pada beberapa tahun lalu. Pasalnya, kala itu Ia bersama rombongannya melakukan kunjungan yang pertama kali ke sini (Sugapa-red), dimana lokasi acara serimonial itu di lakukan di lapangan bola kaki Bilogai, usai kegiatan itu saat kembalinya ke Kabupaten Paniai, masyarakat setempat di bawah perwakilan Kepala-Kepala Suku, Lembaga Adat, Lembaga Agama, Perempuan, Pemuda dan Lembaga Masyarakat setempat memberikan sebuah “NOKEN” asli Moni kepadanya.

“Saat itu sampai beberapa waktu lalu, dalam benak saya berfikir bahwa di dalam Noken ini saya akan masukan apa, itu menjadi pertanyaan saya tiap hari hingga saat ini baru terjawab, ketika noken tersebut saya kembalikan lagi kepada masyarakat Moni di Sugapa akhir bulan Februari 2009 lalu. Itu semuanya berkat hikmat dan tuntunan dari Tuhan melalui perjuangan semua pihak termasuk masyarakat di sini (Sugapa-Intan Jaya). Akhirnya satu kado istimewah yakni SK Pembentukan Kabupaten Intan Jaya yang saya dapat masukan dalam Noken tersebut, dan mengembalikan kepada masyarakat setempat, tepatnya pada akhir bulan Februari 2009 saat saya melakukan kunjungan yang ke dua kalinya ke daerah Sugapa ini,”ujar Naftali dengan setengah nada, dan di dengarkan oleh lebih kurang 1000-an masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan suku Nusantara dengan rasa terkesan.

Selain itu juga, Bupati Naftali menegaskan bahwa hadirnya pemerintah di Intan Jaya ini merupakan salah satu alat control yang mampu dan siap mengedepankan pembangunan di daerah ini, dari semua Segi, baik itu segi Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi Kerakyatan dan terlebih mempercepat Pembangunan Infrastruktur, baik melalui darat maupun udara. Karena yang pastinya dalam tahun 2009 ini, kami dari pihak Pemerintah Kabupaten Induk Paniai, telah menggangarkan dana sebesar 7 Milyard khusus untuk Kabupaten Intan Jaya ini.

“Jangan lupa, utamakan pembangunan sisa jalan dari Sugapa (ibu kota kabupaten Intan Jaya-red) ke Homeo dan seterusnya, akan di setarakan dengan pembangunan jalan dari Ibu Kota Kabupaten Induk Paniai-Komopa hingga sampai Makataka. Karena Moni dan Mee adalah satu keluarga yang memang tidak bisa di pisahkan, kalau dari segi pemerintahaan bisa terpisah, demi menjawab kesenjangan-kesenjangan pembangunan, tetapi kalau dari segi keluarga (Famili) memang tidak bisa di pisahkan. Dulu masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan suku Nusantara hanya bisa dapat sisa-sisa dari hasil pesta Babi yang di lakukan di Kabupaten Induk Paniai, tetapi sekarang ketika sudah mekar sendiri kabupaten, maka masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan suku Nusantara bisa dapat 1 ekor babi, dan bisa dinikmati dengan puas,”tambahnya lagi.

Di akhir komentarnya, orang nomor satu di Pemerintahaan Kabupaten Induk Paniai ini berpesan agar ketika pemilihan Figur Calon Bupati dan Wakil Bupati Definitiv pada tahun 2010 mendatang, di harapkan agar figure yang telah di pilih oleh masyarakat itu sudah sepatutnya harus di dukung sepenuhnya, dan jangan lagi ada tuntutan-tuntutan dari setiap figure lainnya yang kalah dalam pemilihan, supaya hal-hal demikian itu tidak menghalangi jalannya pembangunan khususnya di negeri Intan Jaya yang penuh dengan susu dan madu (sumber daya alam-red) ini.

Ditempat yang sama pula, mewakili masyarakat Moni, Nduga, Dani, Papua non Moni dan Suku Nusantara melalui Kepala Desa Yokatapa, Norbertus Sondegau menyatakan senang dan bangga atas kedatangan Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau yang mana telah di antarkan oleh Bupati Induk Kabupaten Paniai, Naftali Yogi dan rombongannya. Dalam penyampaiannya juga, dia mengatakan bahwa masyarakat sangat harapkan untuk Penjabat Bupati Intan Jaya ini (Bpk. Maximus Zonggonau) untuk bisa dapat betah di tempat, supaya dapat mudah konsentrasi dalam melakukan perencanaan rintisan awal pembangunan di satu tahun lebih masa jabatannya.

“Kami masyarakat moni ingin maju dari ketertinggalan, keterpinggirkan, keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan lain-lainnya. Kami juga tidak ingin kalau saja, adanya perdagangan minuman keras (miras-red) di daerah ini, perdagangan Pekerja Seks Komersial (PSK) di daerah ini, dan perdagangan Narkoba. Juga kami tidak ingin pemimpin itu kerjanya disini (Sugapa-Intan Jaya), tetapi akhirnya melakukan Tanam, Panen dan Mengambil Hasilnya di tempat lain. Dan kami masyarakat dengan senang hati memberikan Tanah, Air, Hutan, Sumber Daya Alam (SDA) kepada pemerintah bahkan perusahaan ketika kelak masuk lagi melakukan aktivitasnya di daerah kami ini, dan kami tidak mau apa yang kami serahkan semuanya itu di perjualbelikan,”tegas Nurbertus Sondegau dalam bahasa Moni dan di terjemahkan oleh Alpius Nambagani (salah satu staf Distrik Sugapa-red).

Dalam waktu dua setengah jam, dari waktu kedatangan Bupati Paniai dan rombongannya pada 11.30 lewat, rombongan Bupati Paniai, Naftali Yogi bersama pejabat teras Lingkup
Paniai, melakukan konfoi dengan motor menuju Lapter Bilogai, dan selanjutnya menaiki pesawat AviaStar, dan melanjutkan penerbangan kembali dari Intan Jaya menuju Lapter Enarotali. Sementara Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau di tahan masyarakat untuk melakukan kegiatan Pesta Bakar Batu bersama. Selama lebih kurang dua hari setelah kedatangannya ke Sugapa, yakni Minggu (14/06-09) dan Senin (15/06-09) Penjabat Bupati Intan Jaya di dampingi Pemerintah Local dan Intelektual melakukan sosialisasi dan sekaligus memantau lokasi-lokasi yang mana kedepannya akan di lakukan pembangunan. Misalnya, jalan antara Sugapa dengan Homeo, lokasi Lapter Bilogai yang kedepannya di rencanakan untuk di perpanjang dan di perlebar, serta lokasi-lokasi yang akan menjadi sasaran pembangunan Kantor-Kantor SKPD dan Legislatif serta Kantor Bupati.

Dan tepat pada, Selasa (16/6-09) Penjabat Bupati Intan Jaya, Maximus Zonggonau, melakukan Perjalanan Dinas ke Kabupaten Induk Paniai, guna melakukan koordinasi dengan Bupati Induk Paniai untuk proses kegiatan-kegiatannya kedepan di Intan Jaya ini……Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com