God Bless You All and Me

06 March 2009

Bisahkah Bangsa Ini menuju Gerbang Keemasan..??

Pertanyaan di atas adalah sebuah tanya yang akhir-akhir ini berputar di dalam otak saya sampai akhirnya tulisan ini di buat. Sudah kita ketahui bersama bahwa dalam era pembaharuan saat ini dibutuhkan berbagai kiat untuk membawa sebuah bangsa pada berbagai tingkat kemapanan. Dari segi kesejahteraan, mungkin bisa dilihat dari meningkatnya angka melek terhadap baca tulis. Bisa terjadi peningkatan yang luar biasa, tetapi tidak tertutup kemungkinan terjadinya perubahan ke arah kemunduran. Bukanlah sebuah kondisi yang permanen bagi sebuah bangsa jika terjadi hal seperti itu, karena tiap detik perubahan itu menjadi roda yang berputar dari atas hingga ke bawah lagi.
Menitik beratkan pada sektor perbaikan hidup masyarakat akar rumput pada umummnya di Tanah Papau selalu menjadi impian sebagian bangsa di dunia, banyak regulasi maupun kebijakan diterapkan dengan harapan memberikan gambaran serta warna baru bagi terciptanya kondisi bangsa yang keemasan. Menuju kesana tidak semudah dibayangkan, perlunya kerja keras dan jerih payah semua pihak, jika sebaliknya tidak tentunya tidak akan bisa bahkan tidak akan pernah bangsa ini menuju gerbang keemasan. Kerja keras itu tidak hanya sebentar saja melainkan bertahun-tahun lamanya baru menghasilkan buah yang matang.

Sesuai data yang di input penulis, dimana di sana-sini telah terjadi pergeseran, salah satunya Uni Soviet yang merupakan negara terbesar nomor dua di jamannnya, malah sekarang ini hanya menjadi sebuah lembaran sejarah.

Jerman bersatu, dulunya merupakan naizsme terbesar yang dengan ambisi duniawinya hampir menguasai sebagian besar daratan dunia, kini telah bertumbuh menjadi bangsa dengan kekuatan ekonomi dunia beserta negara-negara unionnya. Jepang, negara kecil di kepulauan Asia telah memamah biak dalam perkembangan industri dunia dan Paman Sam tetap menjadi kursi kepresidenan dunia.

Indonesia, lantas bagaimana dengan Indonesia dan bagaimana perkembangannya, sejumlah prestasi telah diraih dalam kancah internasional, prestasi membanggakan tidak lain dan tidak bukan adalah negara korup dunia. ‘Saya’ sangat heran sekali, bahwa bangsa sekelas Indonesia tidak mampu menghilangkan krisis berkepanjangan, bangsa-bangsa baru lahir dan bertetangga telah mampu melenyapkan itu semua, belum cukup kah Dewan Ekonomi Nasional kita yang merupakan kumpulan pakar-pakar dibidangnya.

Berpijak pada kemapanan negara, bukan berarti segala cara ditempuh, adat ketimuran sangat kental melekat pada titik nadi bangsa, tidak akan mudah dirubah sampai kapan pun, kalau pun demikian hanya ahli waris yang menciptakannya. Bernostalgia ke jaman dahulu kekuatan pusara nusantara (kerajaan) menjanjikan kondisi yang serba menguntungkan, bayangkan dua pusara kita miliki namun hingga sekarang tak membekas sama sekali, menandakan kalau kita saat ini tengah menuju tahap evolusi kehancuran permanen.

Catatan sejarah meninggalkan bekas seluruh bangsa kita, tidaklah mengherankan jika catatan kriminal kita melambung, korupsi terlebih lagi. Kebanyakan diantara mereka berasal dari bangsa konglomerat. Sana-sini kas finansial mengalami kebobolan, entah bagaimana caranya bisa demikian, ratusan milyar bahkan triliyunan rupiah di raup dalam sekejap dan dalam jangka waktu tak terlalu lama berakhir pada kerugian, sementara seribu rupiah sangat memiliki arti bagi bangsa marjinal, jangankan seribu rupiah, seratus koin pun masih berarti bagi bangsa marjinal.

Sekali pukul dua, tiga pulau terlampaui. Sekali lobby milyaran, trilyunan mengalir dengan deras, sekali limit waktu menjemput yang ada janji, janji dan lagi-lagi janji, sangat kejam dan kurang ajar sekali. Hal terburuk sehingga membuat masyarakat tak pernah sekali berpikir itu semua, yang ada di pikiran mereka adalah yang penting bisa makan serta dapat hidup dan tidak ada impian lain lagi. Setiap saat impian itu terbangun dalam benak mereka, bahkan terbawa sampai anak cucu mereka.

Warisan peninggalan dari para pendahulu seakan-akan melekat pada individ-individu lainnya, tidak hanya itu, darah yang mengalir dalam tubuh mereka juga ikut tercemar, tidak ada kepastian mendapat pewaris tangguh dan mampu membangun bangsa ini dari keterpurukan nasional maupun internasional. Bangsa yang korup tentunya bisa bangun dan memiliki impian masa depan, perlu disadari bahwa ketika impian itu telah berada di depan mata maka harus di raih secepat mungkin.

Indonesia bukanlah bangsa kecil, bangsa yang kaya akan kebudayaan, dari Sabang sampai Merauke, kental dengan ragam keramah tamahan serta mengakui dan menghargai hak-hak azasi, namun kenapa menjadi lemah seperti tak memiliki tenaga untuk bangkit. Bangsa ini seolah-olah mengalami sakit yang berkepanjangan, kita tidak tahu bahwa kapan
semua itu akan berakhir.

Atas semuanya, ada beberapa daerah berpendapat ingin melepaskan diri dari bumi persada ini, gonjang-ganjing pun terjadi di tubuh pemerintah pusat yang berujung pada regulasi “Otonomi Daerah” serta “Otsus”, apakah dengan begitu semuanya menjadi terpenuhi, jawabnya tidak ! Selama kurang lebih empat puluh tahun mengalami penindasan kolonialisme lokal menjadikan daerah-daerah tersebut berontak dan berteriak “bebas…….bebas, aku bebas”. Tidak selamanya bebas, karena koloni-koloni daerah yang berada di pusat kini berpulang ke daerah masing-masing, akibatnya bebas tak sebebas-bebasnya melainkan menderita.

Koloni-koloni tersebut kembali merajai daerah dan ditambah dengan pemberlakuan Otonomi Daerah yang sifatnya setengah hati, bagaimana mau bebas. Raja-raja kecil telah berkuasa, pemerintah masih menancamkan taringnya di sana dan di sini, lantas bagaimana keberpihakan pada kami (rakyat). Penerapan pola pemberdayaan masyarakat sebagai formula dalam mengembangkan rakyat berdasarkan kompetensinya, sedikit banyak telah memberikan bekal bagi mereka dalam melihat perkembangan bangsa sekarang ini.
Perjuangan melalui pemberdayaan masyarakat banyak menghasilkan berbagai resep, salah satu diantaranya adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan (kalau sempat tolong baca : Mubyarto), mampu memberikan rangsangan kepada masyarakat kecil agar lebih giat dalam mengembangkan kemampuan pribadi. Dengan pembekalan-pembekalan secara berkelanjutan dapat menghasilkan produk-produk lokal yang kedepan bisa bersaing dengan produk dari luar dan memberikan nilai tambah bagi devisa negara dan pada akhirnya bangsa ini menuju gerbang keemasan…… Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com