God Bless You All and Me

19 April 2009

Pemilu Legislatif 2009 Membuahkan Banyak Masalah

Berbagai persoalan terus terjadi di negara yang berlambang burung Garuda ini, ketika pesta pemilihan legislative (PEMILU) 2009 di selenggarakan secara serentak pada Kamis 9 April 2009 beberapa waktu lalu. Tentunya, membuahkan banyak persoalan yang tidak berarti bagi seluruh rakyat di Tanah air Indonesia ini pada umumnya dan lebih khususnya di tanah kepulauan cenderawasih yang kaya akan kekayaan alam ini (West Papua). Kenapa tidak, dan bagaimana itu bisa terjadi? Hal itu yang membuatkan otak saya untuk berfikir dan menghasilkan tulisan ini, sesuai dengan argument (pendapat) saya dan serta beberapa pendapat dari sumber-sumber lainnya.

Perlu di ketahui bahwa system pemilu kali ini memanglah tidak sesuai dengan apa yang di harapan oleh masyarakat luas di nusantara ini terlebih di dua provinsi paling tertimur NKRI ini yakni West Papua dan Papua. Secara nyata di lapangan berdasarkan pantauan saya tentunya bermunculan berbagai hal-hal negative dalam perayaan pesta PEMILU Legislatif tahun 2009 ini. Persoalan-persoalan itu tidak sebanding dengan Pemilu-Pemilu beberapa tahun silam, dimana pada PEMILU tahun ini persoalan yang terjadi itu sesuai dengan kaca mata saya diantaranya ; "Terjadinya kekacauan di sana-sini, terjadi manipulasi kertas suara, membingunkan masyarakat kecil sebagai pihak pemilih suara, terjadinya ancaman pembakaran di beberapa tempat di Tanah Papua bahkan beberapa daerah lainnya, banyak caleg yang kalah dalam pencontrengan sehingga berakhir dengan stress, gila, bunuh diri bahkan meninggal dunia secara tiba-tiba akibat dari kekalahan yang tidak mau di terimanya, beberapa kecelakaan lalu lintas terjadi di mana-mana baik pada kecelakaan motor, mobil, kereta api, kapal laut bahkan pesawat terbang saat sedang mengangkut barang-barang logistik Pemilu 2009 dan beberapa dampak-dampak negative lainnya".

Sebenarnya kilas balik dari bangsa ini sudah sangat kenyang pengalaman soal berdemokrasi. Namun, banyak pengamat mengatakan bahwa masih baru belajar berdemokrasi. Jika demikian, kapan persoalan-persoalan ini bisa membaik. Pasalnya, sesuai fakta kalah sama orang-orang desa yang tinggal di pelosok-pelosok dusun. Mereka sudah sangat paham bagaimana melakukan praktik demokrasi secara benar. Mereka (hampir) tidak pernah salah memilih lurah yang bakal jadi sang pemimpin karena jelas track-record-nya.

Untuk memilih anggota dewan, sama seperti kita memilih kucing dalam karung yang dibungkus rapat-rapat. Warna bulunya pun tak jelas. Namun, kita dipaksa harus memilih, kecuali mereka yang memilih untuk tidak memilih alias golput. Bisa jadi, Pemilu yang digelar selama ini selalu
saja menyajikan ”kucing-kucing” yang tak jelas warna bulunya. Tak heran kalau kucing yang berhasil keluar dari karung justru banyak yang rakus dan suka menilap dendeng milik simpanan majikannya. Memang siapa majikannya? Tentunya rakyatlah! Rakyat itu dalam paradigma kekuasaan adalah pemilik kedaulatan. Karena terlalu repot, mereka menyerahkan semua aspirasi dan keinginannya lewat wakil-wakilnya.

Para wakil rakyat itulah yang diberi amanat untuk menyampaikan harapan dan mimpi agar bisa hidup lebih sejahtera; gampang cari kerja, punya daya beli terhadap kebutuhan hidup sehari-hari, bisa keluar dari kubangan lumpur kemiskinan, atau bisa menikmati pendidikan murah. Tetapi sesuai fakta di lapangan sangat begitu banyak sekali ”majikan” yang kecewa lantaran ulah wakil-wakilnya yang serakah dan bermental korup. Fasilitas gaji dan tunjangan bulanan yang sudah bisa untuk hidup mapan belum cukup membuat mereka merasa nyaman. Mereka masih berambisi untuk jadi OKB alias Orang Kaya Baru; menjadi kaum borjuis bergaya feodal. Mereka tak segan-segan cari ”jalan tikus” agar gampang menghilangkan jejak. Bahkan, jika perlu menggunakan cara-cara magis untuk bisa kaya secara instan.

Gedung dewan pun tak ubahnya ladang perburuan gengsi dan kekayaan. Muncullah istilah koboi-koboi Senayan. Mereka mendadak berubah menjadi selebritis politik yang dipuja para pemburu kesesatan. Para pengusaha yang ingin mulus berbisnis mesti menjalin negosiasi dan kongkalingkong dengan para koboi itu. Para birokrat yang ingin memuluskan agenda dan program ”basah” mesti ”njawil” dengan sang koboi. Para pengusaha hiburan mesti bermurah hati menyediakan fasilitas serba mewah lengkap dengan selimut ”hidup”-nya yang hangat agar usahanya tak kena ”semprit”.

Paradigmanya pun dibalik. Mereka yang seharusnya mewakili dan melayani sang ”majikan”, mendadak sontak minta dilayani. Itulah perubahan yang kita rasakan selama ini, dimana Rakyat begitu gampang dilupakan. Janji-janji manis yang bertaburan di atas mimbar kampanye hanya membentur tembok retorika dan slogan belaka. Agaknya, periode 5 tahun belum cukup memuaskan dan memanjakan naluri ”kebrengsekan” purbanya.

Meski demikian, saya juga percaya, masih ada beberapa anggota dewan yang memiliki wisdom dan kearifan. Mereka benar-benar memosisikan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang sesungguhnya sehingga tak berani main-main dan spekulasi. Mereka tak mau larut dalam kubangan lumpur kesesatan dan kenistaan. Ada amanat yang mesti diembannya. Mereka tak dilarang menjadi kaya, tetapi semata-mata itu buah dari perjuangan dan keringatnya dalam menghadirkan sosok rakyat pada setiap jengkal keputusan dan kebijakan yang diambil. Mereka inilah sosok anggota dewan yang selalu hidup berbaur dengan rakyat yang diwakilinya, visioner, dan berusaha menghadirkan ”syurga” buat ”majikan”-nya.

Dapat Kursi, Lupa Rakyat
Abdullah Abdul Muthaleb dalam tulisannya mengatakan kursi istimewah yang apabila orang duduk diatasnya akan lupa diri. Kursinya empuk dan nyaman itu bukan saja menjadi lupa berdiri tetapi juga sampai tidur pulas. Akibatnya, banyak tugas-tugas tak terselesaikan. Itulah kursinya wakil rakyat. Karena begitu empuknya sampai membuat mereka lupa terdapat amanah rakyat yang harus diperjuangkan selama menduduki kursi itu. Kursi itu tentu begitu menggiurkan. (Alm. Bagio Sang pelawak senior).

Angka yang menggiurkan juga akan didapati di beberapa daerah ketika dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk kebutuhan rakyat. Tidak hanya dengan uang tetapi juga fasilitas yang diterima lebih dari cukup. Ada yang berlomba-lomba menaikkan besaran tunjangan sewa rumah hingga prilaku politik lainnya cenderung menguras uang negara. Pengesahan APBA/APBK tak pernah tepat waktu dan terus terlambat, tak jadi soal dan tak merasa malu kepada rakyat. Dan itu terus terjadi setiap tahun anggaran. Penyimpangan anggaran semakin tak terpantau. Korupsi tumbuh subur akibat penganggaran dan monitoring yang bermasalah. Pasti selalu ada alasan untuk berkilah tentang itu semua.

Ada juga wakil rakyat yang bermesum ria, pesta shabu-shabu, bertikai di gedung dewan hingga tingkah yang tidak terhormat lainnya. Dan dituding pula dari dalam, ada yang menjadi ”makelar anggaran”. Kata beberapa sumber terpercaya, karena boleh jadi mereka juga mewakili ”rakyat” yang suka dengan apa yang ia lakukan itu”. Tetapi, sebenarnya persoalannya bukan sekedar soal ”pendapatan” dan prilaku aneh semata, melainkan bagaimana pertanggungjawab wakil rakyat kepada yang telah mengamanahkan kursi itu sehingga dapat diduduki hingga 5 tahun lamanya?

Bagaimana dengan krisis kepercayaan rakyat? Wajar saja bila rakyat kemudian kecewa dan berkata ternyata rezim boleh terus berganti, namun muka-muka politik (us) tak pernah berubah! Partai boleh ganti bendera namun tabiat politik(us) tak jauh berbeda! Bila politikus terus berprilaku seperti tikus, sampai kapan rakyat akan terkorbankan?

Pada kursi 2009, ada wakil rakyat yang juga naik ”ring” lagi. ”Hijrah” ke partai lain dan ada pula yang buat partai sendiri meski kursi-nya di parlemen setahun lagi. Ini memang demokrasi, semua orang punya hak untuk bersikap dalam politik dan memilih kendaraan politiknya. Tetapi yang memprihatinkan adalah ketika kursi yang didudukinya masih dibayar oleh rakyat, tetapi perhatiannya tidak lagi kepada yang membayar kursi, maka itu adalah prilaku keserakahan politik.

Tak lagi menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai wakil rakyat, meski masih menerima gaji dan fasilitas dari rakyat. Bahkan ada yang ”bersikeras” dengan partai untuk mempertahankan kursi itu. Gugat-menggugat ke pengadilan kemudian muncul. Aneh, tetapi inilah dunia politik yang kehilangan nurani dan rasa malu……..Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii-Berbagai Sumber)


1 komentar:

Vicky Laurentina said...

Yang pertama, kita patut bersyukur bahwa Pemerintah sudah beritikad baik mengadakan pemilu tepat waktu dengan segala keterbatasan KPU. Bandingkan dengan era dulu di mana Pemilu bisa tertunda-tunda oleh Pemerintah dengan alasan sepihak.

Kedua, pada dasarnya tiap orang berhak jadi caleg. KPU sudah susah-payah menyaring supaya tidak sembarangan orang seenaknya mencalonkan diri jadi caleg. Bayangkan kalo orang bermental bodoh berbondong-bondong diterima jadi caleg, apa tidak bingung kita harus memilih di antara ratusan nama di kertas suara yang membingungkan itu?

Ketiga, rakyat juga seharusnya mengontrol jalannya Pemilu supaya berjalan benar. Sejak awal kontrol semua nama di DPT. Logistik Pemilu dijaga benar-benar supaya tidak disabotase. Pada hari penghitungan suara, awasi betul supaya KPPS menghitung suara dengan benar.

Keempat, rakyat berhak menggunakan hak suaranya. Jadi rakyat sebaiknya memakai itu untuk memilih caleg yang paling mereka percayai. Jika merasa tidak mengenali satu pun dari caleg-caleg itu, mestinya rakyat yang sejak awal sudah proaktif mencari tahu tentang caleg itu, minimal dengan menyelidiki via internet atau sekedar bertanya kepada tetangga mereka. Tak ada caleg yang bagus, tapi seyogyanya rakyat memilih yang terbaik dari pilihan-pilihan terburuk.

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com