God Bless You All and Me

24 November 2008

Sekilas Pengalaman Saya.....!!!


"...Apapun yang saya lakukan tentunya untuk negeri ini. Walaupun saya terus dan terus di tindas melalui berbagai cara diantarnya teror, intimidasi bahkan lainnya. Saya saat itu di harapkan untuk meninggalkan kota bintuni oleh rekan dan keluarga saya, tetapi saya tetap bersikeras untuk harus dan harus tinggal di Bintuni, dan dengan tantangan itu tidak mematahkan semangat kerja saya sebagai koresponden dari salah satu media lokal di kota minyak sorong dan di tempatkan di Kabupaten Bintuni...."

Selanjutnya, saya akan menceritakan sedikit perjalanan karier saya sebagai Journalis selama 2 tahun lebih di Kabupaten Teluk Bintuni. Saya berterimakasih dan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjaga, memelihara serta menyelamatkan saya dari segala teror, intimidasi bahkan hal-hal negative lainnya yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya bahkan pula istri serta keluarga saya.

Perlu diketahui bahwa bekerja berdasarkan kebenaran dan keadilan di Negeri ini (Tanah Papua) sangatlah tidak mudah membalikan telapak tangan, sesuai dengan yang kita fikirkan bersama-sama. Dalam artian bahwa ketika kebenaran dan keadilan di tegakkan maka dampak-dampak negative yang tentunya diterima oleh kita semua adalah penindasan, terror dan intimidasi.

Seperti halnya yang saya terima di tanah suku Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni, ketika kala itu saya dipercayakan oleh Sang Pencipta melalui PT. Fajar Papua (Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang percetakan Koran di Kota dan Kabupaten Sorong sekitarnya)yakni Harian Umum Fajar Papua. Saya bertugas di Sorong, dengan fokus peliputan yakni Pendidikan dan Kesehatan selama 5 bulan terhitung dari 17 Oktober 2005 hingga 15 Maret 2006. Selanjutnya saya di tugaskan sebagai koresponden di Kabupaten Teluk Bintuni menjadi Kepala Biro Perwakilan Teluk Bintuni, tertanggal 16 Maret 2008.

Ketika saya menginjakkan kaki pertama kali di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Teluk Bintuni, rasa prihatin bercampur sedih timbul di benak pikiran saya ketika melihat perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang kala itu sangat dan sangat sekali tertekan degan persoalan perpolitikan. Hal itulah yang akhirnya membuat pembangunan di Kabupaten Teluk Bintuni di Tahun Pertama masa kerja 100 hari di bawah kepemimpinan drg. Alfons Manibuy, DESS dan Drs. H. Akuba Kaitam sebagai Bupati dan Wakil Bupati terpilih periode 2005-2010 belum menunjukkan suatu pembangunan yang nyata, lantaran protes sesama pejabat yang kala itu kalah dalam PILKADA 2005.

Sehingga persoalan pembangunan saat itu tidak benar-benar direalisasikan sesuai dengan apa yang menjadi target dari 100 hari kerja bupati dan wakil bupati serta para kabinetnya. Namun yang paling dominan lebih banyak waktu berada pada persoalan politik atau berjuang untuk meredamkan isu politik yang semakin panas itu. Disitulah timbul rasa kepedulian saya sebagai Journalis Putra Papua ingin memberikan sejumlah kritikan membangun sesuai dengan proffesi Journalis sebenarnya yakni (Sebagai fungsi control social dalam setiap pembangunan baik yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan oleh para pejabat public atau sering dikenal dengan nama 'Public Figure').

Sebab bagi saya bekerja sebagai PERS, berarti bekerja untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas, yang tentunya pada ujung-ujungnya pula saya sebagai PERS sangat membutuhkan data dari masyarakat, juga perusahaan dan pemerintah. Namun sangat disayangkan, semua komponen masyarakat termasuk pejabat public di Kabupaten Teluk Bintuni hampir sebagian besar belum mengerti dan memahami apa sebenarnya tugas serta fungsi dari PERS atau yang dikenang sebagai “Kuli Tinta” itu.

Sehingga selama hampir dua tahun sejak saya mulai bertugas di Bintuni yakni tahun 2006 hingga tahun 2008, ternyata semua pihak yang berkompoten belum menyadari arti dari tugas dan fungsinya PERS, sehingga membuat saya dan teman-teman di bintuni selalu kelabakan atau mengalami kesulitan dalam arti memberitakan atau menyajikan informasi terkait dengan kepentingan masyarakat. Ketika ada masalah atau persoalan, para pengambil kebijakkan di daerah ini sangat susah untuk ditemui atau di konfirmasi, disaat wartawan melakukan pemberitaan sesuai fakta dilapangan, ternyata pihak-pihak terkait itu tidak menerima hal nyata menjadi kenyataan yang semata pula atau dengan kata lain menjadi bahan kajian atau masukan untuk menuju kearah perubahaan.

Namun yang diterima wartawan adalah terror, intimidasi bahkan penindasan secara halus-halusan, inilah realita kami wartawan yang bertugas di kabupaten teluk bintuni. Dengan lahirnya realita tersebut membuat saya dan rekan-rekan seprofesi yang bertugas di Bintuni seperti wartawan Radio Merbau, Wartawan Harian Umum Cahaya Papua, Wartawan Tabloid Mingguan Bintuni Pos, Wartawan Harian Pagi Papua Barat Pos, Wartawan Harian Umum Fajar Papua, Wartawan Harian Pagi Radar Sorong serta Wartawan tabloid Suaru Pesisir bersepakat melalui pertemuan singkat di rumahnya salah satu rekan Wartawan Papua Barat Pos yang beralamat di Jalan Raya Bintuni Kampung Sibena Wesiri Kelurahan Bintuni Barat Distrik Bintuni membentuk satu wadah yang akhirnya disepakati Forum Journalis Bintuni (Forjubin) dan diketuai oleh saya sendiri (Jemmi Gerson Adii) sedangkan sekretarisnya Alexander F. Rahayaan dan beranggotakan kurang lebih lima orang anggota pengurus.

Dengan satu komitmen, ketika forum itu dibentuk yakni bersepakat, berkompak dan bersilaturahmi adalah hal-hal penting yang perlu dilakukan oleh setiap wartawan yang tergabung dalam forum journalis. Forum tersebut dibentuk tepat pada tanggal 26 November 2007 tahun lalu. Perjalanan pengurus Forjubin yang dibilang baru berusia seumur jagung atau 3 bulan itu, mulai tersendat-sendat ketika beberapa anggota lainnya dengan tanpa alasan yang jelas mengundurkan diri dari keanggotaannya, misalnya seperti wartawan papua barat pos yang kini sudah sah menjadi wartawan tabloid suara pesisir (Koran milik pemkab teluk bintuni-red) dan wartawan cahaya papua yang juga sama lebih dulu bergabung dengan Koran tabloid suara pesisir.Atas pengunduran diri dari satu bahkan dua anggota tersebut tidak menghalangi jalannya kepengurusan Forjubin yang ada saat ini, misalnya wartawan fajar papua, bintuni pos, wartawan RRI Merbau, wartawan radar sorong dan wartawan cahaya papua yang selalu dan selalu eksis dalam menjalankan tugas dan fungsi PERS di bintuni.

Pengalaman Pahit Beberapa ancaman terus dilancarkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab misalnya disaat motor saya terjadi kebakaran tepatnya pada hari rabu tanggal 2 Mei 2007. Aksi-aksi terror melalui kuasa kegelapan “OKULTISME” terus dan terus dilakukan oleh pihak-pihak terkait tanpa ada rasa penyesalan apapun dari mereka terhadap apa yang mereka lakukan. Di bulan september antara tanggal-tanggal belasan pada jam setengah tujuh pagi saya di hadang oleh salah satu pemegang suanggi di bintuni (namanya tidak di tulis) dengan tak sadarkan diri atau dirinya saat itu sedang dalam konsumsi miras, dan bahkan pula sebotol ceper miras dipegangnya di tanggan kanan mencoba hendak menumpangi motor saya, namun atas pertolongan Tuhan saya boleh dapat diselamatkan lewat salah satu pemuda yang juga pada saat itu ada di tempat kejadian.

Proses terror terus mulai dilancarakan, ketika salah satu pemberitaan yang pernah di muat oleh saya yakni terkait dengan masalah penemuan bom pra paskah di bintuni, begitu juga terjadi pengrusakan motor lewat kuasa gelap, sehingga ketika motor milik saya dipakai oleh teman atau siapa saja, sudah tentunya hal-hal buruk seperti kecelakaan lalu lintas dan lain-lainnya akan terjadi. Salah satu fakta yang terjadi ketika salah satu teman yakni Afstan Rumander mengendarai motor tepatnya hari selasa tanggal 25 Maret 2008 lalu, harus berhubungan dengan pihak rumah sakit bintuni disebabkan karena terjadi lakalantas tunggal, dalam artian kecelakaan tanpa ada ketabrakan karena akibat hasutan roh jahat. Intimidasi terus berlanjut, ketika saya memberitakan pemberitaan menyangkut persoalan berita hasil pengumuman testing CPNS Formasi 2007, dengan secara tidak resmi pihak pemerintah daerah kabupaten teluk bintuni memberhentikan langganan Koran harian umum fajar papua.

Dari kejadian itu, rupanya ada oknum-oknum tertentu yang sengaja memperkaya dirinya dengan melakukan terror baik lewat roh jahat yang dikirimnya guna menghasut istri saya dan mengaku sebagai "Penguasa Kalajengkin", bahkan berencana penuh ingin membunuh istri saya bahkan juga saya sendiri dan beberapa teman-teman lainnya seperti Anes Akuan, Afstan Rumander dan Darius Tukan Lein. "Hal itu dikatakan penguasa kalajenkin bintuni disaat merasuki istri saya pada tanggal 10 Mei 2008 di rumah kost bintuni.Selang empat hari kemudian atau tepatnya hari rabu tanggal 14 Mei 2008 sekitar jam 04.00 WPB, saya menerima sorth message system (SMS)terror atau intimidasi dari manusia setan atau oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Isi pesan SMS itu dikirim sebanyak tujuh kali.

Hingga sampai dengan saat ini berbagai cara-cara yang tidak berkenan terus ditingkatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab kepada saya dan teman-teman. "Inilah lika-liku hidup saya ketika menjadi Journalis di Teluk Bintuni"
Akhirnya, satu penolong yang setia yakni Tuhan Yesus. Dia adalah taruhan hidupku, dan saya percaya kepada Yesus yang memberikan nafas kehidupan kepada saya sehingga saya masih bisa bekerja di tanah Sougb, Moskona dan Meyah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai Journalis, kala itu. Hal diatas (SMS TEROR), adalah tantangan bagi ku, ketika kuhidup bersama Yesus dan bekerja demi kepentingan masyarakat Papua khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni. (Edit, 22 November 2008. Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

Apakah Budaya Papua Harus di Angkat Kembali..?

Apa yang saya paparkan dalam tulisan ini, memanglah tidak sesuai dengan apa yang saya pakai. Sebetulnya, sewaktu saya dilahirkan pada 24 tahun silam sudah sepantasnya saya harus dan harus menggunakan pakaian adat saya yaitu “Koteka” (bagi kaum laki-laki) dan “Sally” bagi kaum perempuan.

Apa boleh dikata, perkembangan zaman sejak tahun 80-an sewaktu saya melihat langit dan bumi ini bahkan pula saya belum bisa memastikan kalau saja tahun-tahun sebelumnya Koteka dan Sally sudah tidak di fungsikan lagi oleh tong pu tete, nene, mamade, bapade, tanta dan paman. Walaupun, kala itu tentunya tidak seberapa orang tua seperti yang saya sebuatkan diatas (tete, nene, paman, bapade, tanta dan mamade-red) khususnya di daerah pedalaman Papua masih menggunakan Koteka dan Sally.

Dari kota dingin Bilogai Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, saya sangat, sangat dan sangat terpukul ketika melihat suasana di kota dingin ini berubah. Apa yang saya lihat dan saksikan juga di saksikan oleh rekan-rekan lainnya yang juga berbondong-bondong datang kelapangan terbang Sugapa, untuk menyaksikan atraksi tarian adat “Suku Moni” (salah satu suku yang ada di pedalaman papua-red) disaat para tamu dan undangan tiba dengan pesawat, MAF, Avia Star, Merpati, Trigana dan Airfast.

Saya belum tahu pasti apa yang mereka pikirkan dengan atraksi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Moni di daerah ini (sugapa-red), yang sebagaimana telah di persiapkan sebelumnya secara matang oleh panitia musyawarah pastoral setempat.
Ketika saya melihat dan menyaksikan atraksi tersebut, saya terus dan terus berfikir apakah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat (koteka) ataukah saya akan terus dan terus menggunakan celana dan baju saja, dari tahun ke tahun hingga ajal tiba (dipanggil pulang oleh Bapa di sorga)…? Tentunya saya secara pribadi merasa sangat tidak bisa sekali, bukannya saya gengsi dengan adanya perkembangan zaman saat ini tetapi sewaktu saya injakan kaki pertama di dunia ini, pada waktu itu bukannya saya di pakaikan Koteka, namun malah saya di pakaikan baju dan celana.

Apakah saat itu saya harus memohon kepada mama saya untuk harus menggantikan baju dan celana dengan Koteka..? Tentunya tidak mungkin sebab saya tinggal ikut saja apa yang dilakukan oleh mama yang menjaga dan mengasuh saya sejak bayi, anak kecil hingga usia saya saat ini mencapai 24 tahun.

Saat ini saya berfikir kapankah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat pedalaman Papua. Ataukah Koteka dan Sally hanya berakhir dengan di petieskan..? Ataukah di belasan hingga puluhan tahun kedepan anak cucu akan dapat berfikir seperti yang saya fikirkan saat ini…? Ataukah dengan perkembangan zaman yang selalu maju tiap ganti abad membuat anak dan cucu lupa akan Koteka dan Sally sebagai pakaian adat orang pedalaman Papua…? Inilah pertanyaan hari-hari saya saat ini.

Tahun lalu, ketika saya berada di salah satu kota yang ada di Provinsi Papua Barat saya membeli salah satu Koran local di daerah itu dan membaca. Dari banyaknya topic berita yang disajikan hanya satu topic yang membuat otak saya berputar untuk berfikir. Tidak lain dan tidak bukan terkait menyangkut hilangnya budaya Papua secara umum dan lebih khususnya budaya orang gunung Papua. Hal itu tentunya tidak keluar dari pakaian adat orang gunung (Koteka dan Sally).

Di akhir tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa masukan dan saran kepada semua pihak yang berkompoten di negeri Papua ini dan terlebih bagi kakak, adik, paman, bapade, mamade, tanta, kakek dan nenek khususnya asli pedalaman Papua, sudah saatnya untuk tong berfikir dan malakukannya, sebab ketika tong tidak berfikir dan melakukannya tentunya tidak menutup kemungkinan tong punya budaya pasti akan di petieskan atau punah, dan beberapa puluh tahun kedepan jika kita masih ada atau saat itu yang ada di negeri ini tong pu anak dan cucu saja, hanya mendengarkan cerita dongen saja tentang negeri Papua ini.

Saya belum tahu pasti apa yang menjadi tanggapan dan pemikiran dari kakak, adik, tanta, mamade, bapade, kakek dan nenek terkait dengan tulisan ini. Kalau menurut pemikiran dan tanggapan saya budaya Papua harus di angkat dan dilestarikan kembali saat ini. Seperti salah satu kata yang saya kutip di tulisan ini yakni “Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kitong semua orang gunung siapa lagi.”

Ingat dan camkan baik-baik, hingga tahun 2008 ini di Papua sendiri khususnya di daerah pedalaman ada beberapa daerah yang dimekarkan menjadi kabupaten sendiri (definitive), sudah tentunya yang akan bermunculan atau menanamkan investor adalah daerah budaya luar, sehingga tong punya budaya dengan sendirinya akan hilang, dan turut di pengaruhi oleh budaya luar. Apa yang menjadi budayanya kitorang orang gunung harus dan harus di angkat kembali atau di lestarikan kembali.

Kepada adik-adik yang masih duduk di bangku pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi (PT) baik yang ada di daerah pedalaman, daerah pesisir pantai bahkan di daerah jawa dan beberapa provinsi lainnya, saya sangat harapkan agar tong harus berfikir untuk melestarikan dan mengangkat kembali budaya kita yang saat ini sudah mulai punah…..Semoga…!!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

Dengan Otsus, Masyarakat Papua di Pasaran Patut di Berdayakan

Istilah orang papua harus menjadi tuan diatas negerinya sendiri, bukan berarti hanya berada pada masalah kepemimpinan di dalam pemerintahaan saja, melainkan sekecil apapun bidangnya tentunya wajib dikedepankan orang papua untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri. Seperti sebagaimana yang di amanatkan dalam undang-undang (UU) Otonomi Khusus (Otsus) Papua Nomor 21 Tahun 2001.

Jika di cermati satu per satu, bidang-bidang itu meliputi Pendidikan, Kesehatan, Infrastruktur dan Ekonomi Kerakyatan. Pada tulisan ini, bagian yang dirasa perlu untuk dikaji serta di teliti secara baik oleh semua pihak yang berkompoten tanpa terkecuali seperti pemerintah adalah menyangkut bidang Ekonomi Kerakyatan.

Salah satu masalah yang hingga kini masih menjadi bahan dasar yang perlu di perhatikan khususnya pada peningkatan ekonomi kerakyatan dapat dilihat secara nyata, hampir di semua daerah di dua provinsi paling tertimur ini baik Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat, dimana masyarakat local khususnya mama-mama papua secara kaca mata penulis di lapangan, dimana disaat mereka (masyarakat pribumi-red) hendak menjual atau memasarkan hasil pangannya di pasar, sangat nampak sekali tidak mendapatkan tempat yang layak, malah hasil pangannya hanya bisa dijual di dasar tanah. Sedangkan, jika dilihat justru malah hampir sebagian besar masyarakat non local-lah, seperti trans Jawa-Manado dan Makasar menempati tempat jualan yang sangat strategis.

Hal inilah yang patut dibilang menjadi tuan diatas tanahnya sendiri, sedangkan fakta dan keadaan di lapangan masih saja seperti begitu dari waktu ke waktu hingga detik ini. Jika perlu bukti, bisa saja di amati hampir di seluruh pasar di Tanah Papua baik kabupaten atau kota di Provinsi Papua maupun Provinsi Papua Barat. Salah satu tempat atau pasar sesuai pantauan penulis beberapa pekan lalu, yakni di Pasar Lama Bintuni Distrik Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat dan Pasar Baru Sentani, Distrik Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua.

Dua tempat pasar tersebut menjadi contoh dari keseluruhan pasar di Tanah Papua. Dimana, hampir sebagian besar masyarakat local menjual hasil pangannya di tempat-tempat yang secara kasar dibilang kurang strategis, misalnya saja berjualan di dasar tanah.

Hal demikian, tentunya membuahkan pertanyaan besar bagi masyarakat papua lebih khusus mama-mama papua tersebut. Sampai kapan kegiatan aktivitas oleh masyarakat local di pasar dalam berdagang di tempat yang lebih nyaman, dan sampai kapan pula mama-mama tersebut bisa mendapatkan tempat yang layak di pasar....?

Sedangkan kalau dilihat Otsus Papua sudah bergulir selama lebih kurang 7 tahun. Dari bergulirnya otsus hingga sekarang ini, masih saja terlihat orang papua tidak diberdayakan sesuai UU Otsus tersebut untuk menjadi tuan di atas tanahnya sendiri, khususnya di bidang ekonomi kerakyatan.

Banyak orang berargumen bahwa menjadi tuan diatas tanahnya sendiri hanya berlaku pada tingkat atas atau dengan kata lain di pemerintahaan saja. Tetapi tidak beranggapan secara positif bahwa dalam berdagang itu juga salah satu dari sekian banyak yang terkandung pada bagian dari bidang ekonomi kerakyatan, yang terasa sangat perlu diberdayakan.

Seperti sebagaimana, menurut beberapa mama-mama asli suku Sougb yang berada di kawasan Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, diantaranya Hana Iba dengan suara setengah kecewa membeberkan bahwa hasil pangan yang dikelolah oleh mereka dalam memasarkan di pasar, mengalami kesulitan. Kesulitan itu, rupanya tidak lain dan tidak bukan adalah tempat penjualannya di pasar. “Saya serta mama-mama lain selalu memilih diam, sebab ketika berkata tentunya tidak ada orang yang bisa mendengarkan suara kami, pada hal kami tahu bahwa ketika kami bersuara pasti anak-anak kami yang ada duduk di Wakil Rakyat (DPRD) bisa memperjuangkan suara kami.”ujar mama Hana.
Dirinya sangat kesal, walau ada Wakil Rakyat serta juga ada Bantuan Dana Otsus yang di kucurkan oleh pemerintah yang tengah berjalan lebih kurang tujuh tahun, tetapi tidak membuahkan hasil yang baik, terutama bagi masyarakat local di bidang ekonomi kerakyatan.

Ia mengatakan, coba anak (penulis-red) lihat sendiri sekarang kita berjualan harus duduk di lantai dasar pasar, sedangkan tempat-tempat yang strategis paling banyak di dapatkan oleh orang seberang (non local-red). Jika demikian, sudah tentunya Otsus bukan milik kitorang orang papua tetapi miliknya orang non papua. “Jika kalau otsus milik orang papua, kenapa kami bisa berjualan di lantai pasar, sebenarnya tempat-tempat yang sangat strategis itulah yang harus dimiliki oleh orang-orang papua, supaya menjadi tuan di atas tanahnya sendiri dapat tercapai.”sambungnya lagi dengan nada serius.

Penuturan mama-mama di Bintuni Provinsi Papua Barat, juga sama halnya dengan apa yang diutarakan oleh beberapa mama-mama yang tengah berjualan di pasar baru Sentani di Provinsi Papua. Salah satu mama yang sempat di tanyai penulis, menuturkan dengan berjualan di lantai dasar pasar, adalah bagian tempat mereka yang nyaman dan abadi.
Menurut mama tersebut, prioritas masyarakat local terutama mereka yang berjualan di pasar perlu di perhatikan secara serius oleh pihak penentu kebijakkan, dalam hal ini para pimpinan nomor satu di pemerintahaan.

“Ini kami berbicara atas dasar UU Otsus Nomor 21 Tahun 2001, jika kalau kami tidak diberdayakan, kenapa Otsus hingga masuki tahun ke tujuh masih terus bergulir. Sedangkan pemberdayaan masyarakat local saja belum begitu nampak dipermukaan,”tukasnya............Semoga!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

Kebudayaan Manusia Terus Berubah Akibat Pengaruh Luar

Kebudayaan manusia dari waktu ke waktu selalu berubah atau bersifat dinamis. Perubahan-perubahan yang terjadi itu disebabkan oleh dua factor yakni, perubahan dari dalam dan perubahan dari luar. Perubahan dari dalam sesuai analisi saya yaitu manusia dalam hidupnya selalu menginginkan sesuatu yang baru, lebih baik dan sempurna serta dengan bertambahnya jumlah anggota keluarga menyebabkan ia (manusia) dengan kemampuan akalnya akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Misalnya kebutuhan akan tempat tinggal (rumah) dan beberapa hal-hal lainnya. Sementara, perubahan dari luar yakni dengan masuknya pengaruh asing seperti system pengetahuan dan teknologi karena adanya pertemuan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Dimana manusia yang satu bertindak sebagai pemberi unsur-unsur kebudayaan dan manusia yang lainnya bertindak sebagai penerima kebudayaan tersebut.

Kebudayaan masyarakat Papua juga sama seperti yang telah di kemukakan diatas. Sebelum kebudayaan Papua dipengaruhi oleh kebudayaan dari luar, kebudayaan masing-masing masyarakat setempat didaerah pantai maupun pedalaman tidaklah bersifat statis tanpa mengalami perubahan.

Meskipun perubahan secara tidak nyata bolehlah dikatakan bahwa setiap generasi mewujudkan sejumlah hasil pemikiran yang tidak didapati pada kebudayaan yang diwujudkan oleh generasi yang mendahuluinya. Dalam kenyataan terlihat bahwa masyarakat-masyarakat setempat di papua mewujudkan tata cara kehidupan yang berbeda, system kekerabatan yang berbeda.
Pengetahuan mengenai alat-alat yang terbuat dari besi dan logam oleh masyarakat daerah di pedalaman Papua, diketahui setelah adanya pengaruh dari luar, yaitu dengan masuknya orang Eropa yang datang selain untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah juga usaha untuk memperoleh kekayaan.

Begitu pula dengan penggunaan uang yang di buat Pemerintah Jajahan Belanda sebagai alat penukar untuk memperoleh barang-barang tertentu, sehingga mendorong sejumlah individu berusaha memperoleh uang yang di pertukarkan dengan barang-barang keinginannya.
Keadaan sebagaimana dijelaskan diatas terjadi pula hampir di semua daerah yang ada di dua Provinsi ini yakni Papua dan Papua Barat. Dimana sebelum masyarakat lokal menerima pengaruh dari luar, adat sangat berperan dalam kehidupan masyarakat setempat. Setelah masuknya pengaruh dari luar mengakibatkan peranan adat semakin berkurang (merosot-red), seperti masuknya pengaruh agama Kristen yang menyebabkan adanya pembakaran rumah-rumah tradisional serta hal-hal lain yang dilihat bertentangan dengan agama Kristen.

Masuknya system pemerintahaan formal turut juga mempengaruhi system pemerintahaan tradisional. Seperti semakin menurunnya dinamika gotong royong pada masyarakat. Selain itu terdapat pula perubahan pada rumah yang meliputi; bentuk, ukuran, dan bahan serta lokasi rumah tersebut.

Telah dijelaskan dimuka bahwa kebudayaan bersifat dinamis, sekarang muncul pertanyaan bila kebudayaan bersifat dinamis, apakah unsur-unsurnya juga bersifat dinamis? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui apa saja unsur-unsur kebudayaan itu. Sesuai data yang di input penulis, ada sebanyak tujuh unsur kebudayaan yang universal diantaranya yakni, Bahasa, Sistem Pengetahuan, Organisasi Sosial, Sistem Peralatan hidup dan Teknologi, Sistem Mata Pencaharian Hidup, Sistem Religi dan Kesenian.

Dari ketujuh unsur tersebut saya lebih memperhatikan unsur teknologi, secara khusus adalah teknik pembuatan rumah.

Mengapa teknik pembuatan rumah itu penting ? Alasan karena rumah mempunyai arti tertentu bagi pemiliknya. Rumah merupakan salah satu hasil kebudayaan yang terdapat pada semua masyarakat atau manusia di dunia.

Rumah dibangun dengan mempunyai bentuk, motif dan arsitektur dalam kebudayaan, selain itu selama ini sejumlah referensi yang berhubungan dengan teknik membuat rumah belum terungkap. Hal ini penting untuk diteliti sebelum punah, berubah dan menghilang.

Bagian pertama, fungsi sosial yaitu rumah tempat tinggal keluarga kecil atau keluarga besar, rumah suci, rumah pertahanan, dan rumah tempat berkumpul umum. Bagian kedua, fungsi pemakaian yaitu tenda atau gubuk yang segera dapat dilepas dan rumah untuk menetap.

Rumah juga berfungsi untuk menunjukkan wilayah klen tertentu (marga tertentu). Kondisi persoalan ini dipersulitkan oleh munculnya kecenderungan dari petuah-petuah itu sendiri untuk memilih rumah modern, karena tidak mempertahankan bentuk rumah tradisional. Keadaan ini juga berakibat pada menurunnya partisipasi dari sejumlah fungsionaris adat dalam rumah.....Semoga..!!! (Jemmy Gerson Adii)

seLENgkapnya......

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com