God Bless You All and Me

24 November 2008

Apakah Budaya Papua Harus di Angkat Kembali..?

Apa yang saya paparkan dalam tulisan ini, memanglah tidak sesuai dengan apa yang saya pakai. Sebetulnya, sewaktu saya dilahirkan pada 24 tahun silam sudah sepantasnya saya harus dan harus menggunakan pakaian adat saya yaitu “Koteka” (bagi kaum laki-laki) dan “Sally” bagi kaum perempuan.

Apa boleh dikata, perkembangan zaman sejak tahun 80-an sewaktu saya melihat langit dan bumi ini bahkan pula saya belum bisa memastikan kalau saja tahun-tahun sebelumnya Koteka dan Sally sudah tidak di fungsikan lagi oleh tong pu tete, nene, mamade, bapade, tanta dan paman. Walaupun, kala itu tentunya tidak seberapa orang tua seperti yang saya sebuatkan diatas (tete, nene, paman, bapade, tanta dan mamade-red) khususnya di daerah pedalaman Papua masih menggunakan Koteka dan Sally.

Dari kota dingin Bilogai Distrik Sugapa, Kabupaten Paniai, saya sangat, sangat dan sangat terpukul ketika melihat suasana di kota dingin ini berubah. Apa yang saya lihat dan saksikan juga di saksikan oleh rekan-rekan lainnya yang juga berbondong-bondong datang kelapangan terbang Sugapa, untuk menyaksikan atraksi tarian adat “Suku Moni” (salah satu suku yang ada di pedalaman papua-red) disaat para tamu dan undangan tiba dengan pesawat, MAF, Avia Star, Merpati, Trigana dan Airfast.

Saya belum tahu pasti apa yang mereka pikirkan dengan atraksi yang dilakukan oleh masyarakat Suku Moni di daerah ini (sugapa-red), yang sebagaimana telah di persiapkan sebelumnya secara matang oleh panitia musyawarah pastoral setempat.
Ketika saya melihat dan menyaksikan atraksi tersebut, saya terus dan terus berfikir apakah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat (koteka) ataukah saya akan terus dan terus menggunakan celana dan baju saja, dari tahun ke tahun hingga ajal tiba (dipanggil pulang oleh Bapa di sorga)…? Tentunya saya secara pribadi merasa sangat tidak bisa sekali, bukannya saya gengsi dengan adanya perkembangan zaman saat ini tetapi sewaktu saya injakan kaki pertama di dunia ini, pada waktu itu bukannya saya di pakaikan Koteka, namun malah saya di pakaikan baju dan celana.

Apakah saat itu saya harus memohon kepada mama saya untuk harus menggantikan baju dan celana dengan Koteka..? Tentunya tidak mungkin sebab saya tinggal ikut saja apa yang dilakukan oleh mama yang menjaga dan mengasuh saya sejak bayi, anak kecil hingga usia saya saat ini mencapai 24 tahun.

Saat ini saya berfikir kapankah saya bisa kembali menggunakan pakaian adat pedalaman Papua. Ataukah Koteka dan Sally hanya berakhir dengan di petieskan..? Ataukah di belasan hingga puluhan tahun kedepan anak cucu akan dapat berfikir seperti yang saya fikirkan saat ini…? Ataukah dengan perkembangan zaman yang selalu maju tiap ganti abad membuat anak dan cucu lupa akan Koteka dan Sally sebagai pakaian adat orang pedalaman Papua…? Inilah pertanyaan hari-hari saya saat ini.

Tahun lalu, ketika saya berada di salah satu kota yang ada di Provinsi Papua Barat saya membeli salah satu Koran local di daerah itu dan membaca. Dari banyaknya topic berita yang disajikan hanya satu topic yang membuat otak saya berputar untuk berfikir. Tidak lain dan tidak bukan terkait menyangkut hilangnya budaya Papua secara umum dan lebih khususnya budaya orang gunung Papua. Hal itu tentunya tidak keluar dari pakaian adat orang gunung (Koteka dan Sally).

Di akhir tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa masukan dan saran kepada semua pihak yang berkompoten di negeri Papua ini dan terlebih bagi kakak, adik, paman, bapade, mamade, tanta, kakek dan nenek khususnya asli pedalaman Papua, sudah saatnya untuk tong berfikir dan malakukannya, sebab ketika tong tidak berfikir dan melakukannya tentunya tidak menutup kemungkinan tong punya budaya pasti akan di petieskan atau punah, dan beberapa puluh tahun kedepan jika kita masih ada atau saat itu yang ada di negeri ini tong pu anak dan cucu saja, hanya mendengarkan cerita dongen saja tentang negeri Papua ini.

Saya belum tahu pasti apa yang menjadi tanggapan dan pemikiran dari kakak, adik, tanta, mamade, bapade, kakek dan nenek terkait dengan tulisan ini. Kalau menurut pemikiran dan tanggapan saya budaya Papua harus di angkat dan dilestarikan kembali saat ini. Seperti salah satu kata yang saya kutip di tulisan ini yakni “Kalau bukan sekarang kapan lagi, dan kalau bukan kitong semua orang gunung siapa lagi.”

Ingat dan camkan baik-baik, hingga tahun 2008 ini di Papua sendiri khususnya di daerah pedalaman ada beberapa daerah yang dimekarkan menjadi kabupaten sendiri (definitive), sudah tentunya yang akan bermunculan atau menanamkan investor adalah daerah budaya luar, sehingga tong punya budaya dengan sendirinya akan hilang, dan turut di pengaruhi oleh budaya luar. Apa yang menjadi budayanya kitorang orang gunung harus dan harus di angkat kembali atau di lestarikan kembali.

Kepada adik-adik yang masih duduk di bangku pendidikan mulai dari TK hingga Perguruan Tinggi (PT) baik yang ada di daerah pedalaman, daerah pesisir pantai bahkan di daerah jawa dan beberapa provinsi lainnya, saya sangat harapkan agar tong harus berfikir untuk melestarikan dan mengangkat kembali budaya kita yang saat ini sudah mulai punah…..Semoga…!!!! (Jemmy Gerson Adii)

0 komentar:

My Number NPWP

NPWP : 58.996.735.5-953.000 Terdaftar : 12 Desember 2008

My Daily

Lahir di Karang Mulia Nabire, 17 Januari 1984. Alumni dari Perguruan Tinggi STIE PORT NUMBAY JAYAPURA WEST PAPUA pada Jurusan Managemen Program Study Management Keuangan Tahun 2004. Pernah bekerja sebagai Journalis di Media lokal di kota Minyak Sorong dan lewat pekerjaan itu saya di tugaskan sebagai KABIRO Journalis perwakilan di Kab. TelBin. Hingga kini saya masih menulis tulisan dan dimuat di web bloger www.jemmyadii.blogspot.com, www.wikimu.com. Selain itu juga, pernah bekerja sebagai Aktivis di LSM Bin Madag Hom anak cabang Yalhimo Manokwari selama lebih kurang 2,5 tahun. Juga pernah bekerja sebagai sebagai GovRell & CommRell pada PT. MineServe International Timika, loker di Bilogai, Sugapa, Kab. Paniai (kini menjadi Kabupaten Intan Jaya). Sekarang bekerja sebagai Staf PNS pada Bappeda & di Mutasi ke Dinas Keuangan Kab. Deiyai Tahun 2014 ini. Status saya sudah berkeluarga, dalam keluarga saya sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Asal kampung saya di Puteyato, Komopa dan Amago Kabupaten Deiyai & Paniai........Kuasa Ugatame sangat Dasyat. Mujizat Ugatame itu Nyata. Dapat Ugatame Dapat Semuanya. Bagi Ugatame tidak ada yang Mustahil. Ugatame ini enaimo.(Matius 6:33;7:7; I Tesalonika 5:16, 17 & 18; Filipi 4:6; Wahyu 1:17b & 18; 2:10;dll)_PKAZ-adiibo
Template by : kendhin x-template.blogspot.com